JAKARTA – Bagi pasangan Muslim yang merencanakan pernikahan di tahun 2026, memilih waktu yang tepat tidak hanya soal kepraktisan, tetapi juga makna spiritual yang mendalam.
Dalam tradisi Islam, meskipun tidak ada bulan yang secara mutlak dilarang untuk menikah, terdapat beberapa bulan Hijriah yang diyakini membawa keberkahan dan keutamaan lebih berdasarkan sunnah Rasulullah SAW serta momen-momen penting sejarah Islam. Berikut lima bulan yang direkomendasikan untuk memulai kehidupan pernikahan dengan penuh doa dan kebaikan.
Bulan Rajab dikenal sebagai “kunci” untuk bulan-bulan berkah. Rasulullah SAW biasa memuliakan bulan ini, dan menjadi waktu ketika orang tua Rasulullah SAW menikah serta momen ketika Sayyidah Aminah mengandung Rasulullah. Memilih bulan Rajab untuk menikah bermakna membuka pintu kebaikan untuk membangun rumah tangga yang kokoh dan penuh rahmat Allah SWT.
Bulan Syawal menjadi pilihan paling populer di kalangan calon pengantin Muslim. Rasulullah SAW menikahi Aisyah RA pada bulan ini. Selain meneladani Nabi, menikah di bulan Syawal juga mengubah persepsi jahiliyah yang menganggap bulan ini sial—membuktikan bahwa dalam Islam tidak ada bulan yang membawa kesialan, hanya takhayul yang perlu dilawan dengan keberanian.
Bulan Rabiul Awal memiliki keistimewaan tersendiri sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Rasulullah SAW menikahkan putri ketiganya, Ummu Kultsum, dengan Utsman bin Affan pada bulan ini. Menikah di Rabiul Awal sering dimaknai sebagai harapan agar rumah tangga dipenuhi cinta kasih, kelembutan, dan keteladanan seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.
Masyarakat Jahiliyah dulu menganggap Safar sebagai bulan yang membawa kesialan, namun Islam membuktikan sebaliknya. Rasulullah SAW menikahi Khadijah pada bulan ini, dan pernikahan Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra juga dilangsungkan di Safar. Dengan memilih bulan Safar untuk menikah, pasangan turut mewujudkan ajaran Islam yang mengutamakan niat baik daripada takhayul.
Bulan Dzulhijjah adalah bulan ibadah haji dan identik dengan semangat pengorbanan serta ketakwaan. Menikah di bulan ini dipercaya dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, kesetiaan, dan kesadaran untuk saling berkorban demi keharmonisan keluarga. Setelah momentum Lebaran Haji, pernikahan di bulan ini terasa semakin bermakna dengan suasana spiritual yang tinggi.
Selain memilih bulan yang tepat, ada anjuran dari ulama terkemuka tentang hari-hari istimewa. Hari Jumat dan Kamis direkomendasikan untuk akad nikah karena berkahnya.
Begitu pula tentang waktu, ulama Syafi’i menyarankan pagi hari berdasarkan doa Nabi, sementara ulama Hanbali dan Maliki lebih cenderung memilih waktu setelah Ashar (sore) hingga Maghrib. Keputusan memilih waktu pagi atau sore sama-sama memiliki dasar syar’i yang kuat.
Penting untuk diingat bahwa dalam ajaran Islam, semua bulan sebenarnya baik untuk menikah. Tidak ada larangan atau pembatasan waktu yang ketat; yang terpenting adalah niat dan tujuan pernikahan dilakukan dengan dasar keimanan serta keinginan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah (keluarga yang tenang, penuh cinta dan kasih sayang).
Dengan mempersiapkan pernikahan secara matang dan memilih bulan yang bermakna, semoga tahun 2026 menjadi tahun yang membawa berkah dan kebahagiaan bagi setiap pasangan Muslim yang memulai kehidupan bersama.
(Rahman Asmardika)