Hal yang sama juga dirasakan Dino, pedagang tahu gimbal khas Semarang yang berjualan di stan kuliner MTQ Nasional.
Dia mengaku pendapatannya meningkat dibanding hari biasa sejak ikut berjualan dalam rangkaian MTQ.“Kalau mengikuti MTQ ini, kotor kadang sampai Rp3 juta, Rp2,5 juta,” ujar Dino.
Keramaian MTQ memberi pengaruh besar bagi pelaku UMKM karena menghadirkan masyarakat dari berbagai daerah. Selain menambah penghasilan, momentum ini juga menjadi ruang promosi kuliner khas Semarang.
“Pengaruhnya sangat besar karena bisa menambah pendapatan untuk UMKM yang ada di sini. Sekaligus mempromosikan makanan khas daerahnya,” kata Dino.
Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Alquran Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty, mengatakan, pelaksanaan MTQ Nasional diharapkan memberi manfaat luas bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM dan usaha kuliner lokal.
“MTQ bukan hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan dan pemahaman masyarakat terhadap Alquran, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran peserta, kafilah, dan pengunjung dari berbagai daerah turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Rijal menambahkan, keterlibatan UMKM dalam rangkaian MTQ menjadi kesempatan memperkenalkan produk dan kuliner khas daerah kepada masyarakat luas. Dengan demikian, MTQ meninggalkan dampak tidak hanya dari sisi keagamaan, tetapi juga sosial dan ekonomi.