Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Obituari Kiai Syukron Ma'mun: Keteguhan di Tengah Kegelisahan

Opini , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |09:26 WIB
Obituari Kiai Syukron Ma'mun: Keteguhan di Tengah Kegelisahan
Obituari Kiai Syukron Ma'mun: Keteguhan di Tengah Kegelisahan
A
A
A

Ketika reformasi membuka kembali ruang kebebasan politik, Gus Dur menjadi tokoh utama kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sedangkan Kiai Syukron mendirikan Partai Nahdlatul Ummat (PNU).

Perjalanan hidup Kiai Syukron bertumpu pada tiga matra pengabdian: pendidikan pesantren, dakwah, dan politik. Ketiganya menyatu dalam keyakinan bahwa Islam bukan hanya untuk diajarkan, tetapi juga diperjuangkan agar nilai-nilainya mewarnai kehidupan masyarakat dan negara.

Pada 2002, saya berkesempatan menunaikan ibadah haji satu rombongan bersama beliau. Hampir setiap pagi kami sarapan bersama. Dari perjumpaan sederhana itu tumbuh keakraban. Kami berbincang tentang banyak hal, termasuk kehidupan politik dan masa depan perjuangan umat.

Lebih dari dua dasawarsa kemudian, sepanjang 2023–2025, saya beberapa kali kembali sowan. Sebagai seorang yang jauh lebih senior, beliau banyak memberikan nasihat dan pandangan. Salah satu perbincangan yang paling membekas menyangkut hubungan Islam dengan partai politik, khususnya asas PKB.

Berbeda Pandangan

Kiai Syukron berpandangan bahwa PKB, partai yang lahir dari rahim perjuangan ulama NU, semestinya secara eksplisit mencantumkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai asasnya. Bagi beliau, asas bukan sekadar rumusan formal dalam anggaran dasar, melainkan penegasan identitas dan arah perjuangan.

Saya menyampaikan pandangan berbeda. Partai politik bukan hanya harus memiliki keyakinan dan cita-cita yang benar, tetapi juga harus mampu hidup, diterima, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat yang heterogen dan multikultural.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement