Advertisement
Advertisement

Tata Cara Sholat Istisqa agar Hujan Segera Turun

Niken Wulandari , Jurnalis-Selasa, 27 Oktober 2026 |16:49 WIB
Tata Cara Sholat Istisqa agar Hujan Segera Turun
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Tata cara sholat istisqa agar hujan segera turun penting untuk diulas. Hujan sering dianggap hal biasa, padahal kehadirannya menentukan kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Lantas, bagaimana tata cara sholat istisqa agar hujan segera turun? Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia, berikut adalah tata cara sholat istisqa agar hujan segera turun.

1. Tata Cara Sholat Istisqa Berjamaah

Sholat istisqa dikerjakan dua rakaat dengan tata cara yang menyerupai sholat Id. Bacaan Al-Fatihah dan surat sesudahnya dikeraskan sama seperti sholat Id. Perbedaannya terletak pada isi khutbah, bacaan pembukanya, dan beberapa amalan saat khutbah berlangsung.

Sholat diawali dengan niat yang disesuaikan dengan posisi sebagai imam atau makmum, berikut niatnya:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا/إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal istisqai rak’ataini ma’muman/imaman lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku berniat sholat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum (atau imam), karena Allah Ta’ala.”

Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, bertakbirlah tujuh kali sambil mengangkat kedua tangan sebelum membaca Al-Fatihah. Setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Qaf atau Al-A’la.

Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud, bertakbirlah lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Setelah itu, dianjurkan membaca surat Al-Qamar atau Al-Ghasyiyah. Takbir tambahan dan anjuran bacaan surat ini merujuk pada kitab Fath al-Qarib karya Ibnu Qasim al-Ghazi dan Nihayah az-Zain karya Syekh Nawawi al-Bantani.

 

2. Khutbah Sholat Istisqa

Seusai sholat, imam menyampaikan dua khutbah seperti khutbah sholat Id. Khutbah boleh disampaikan sebelum atau sesudah sholat, tetapi yang lebih utama adalah sesudah sholat.

Bedanya dengan khutbah Id, khutbah istisqa dibuka dengan istighfar, bukan takbir. Sebelum khutbah pertama, khatib dianjurkan membaca istighfar sembilan kali. Sebelum khutbah kedua, istighfar dibaca tujuh kali.

Berikut lafal yang dapat dibaca:

أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullahal ‘azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaih.

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Aku bertobat kepada-Nya.”

Penggunaan istighfar ini menunjukkan bahwa permohonan hujan tidak hanya disertai doa, tetapi juga taubat dan permohonan ampun kepada Allah.

Pada sekitar sepertiga bagian khutbah kedua, khatib disunnahkan menghadap kiblat, lalu membalik atau memindahkan selendang atau kain yang dikenakan dari sisi kanan ke kiri atau sebaliknya. Jamaah laki-laki yang hadir juga boleh melakukannya, sedangkan jamaah perempuan tidak dianjurkan.

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, amalan ini adalah bentuk optimisme agar keadaan berubah dari kesulitan menjadi kelapangan. Semoga ikhtiar memohon hujan ini dikabulkan dan membawa keberkahan bagi semua makhluk.

(Rahman Asmardika)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement