Tarawih Diskon

, Jurnalis
Rabu 17 September 2008 10:56 WIB
Share :

Pada masa kekuasaan Presiden Habibie, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana, dengan mengajak seorang yang disebutnya "Kiai kampung" dari Metro Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka dan omong-omong seperlunya, Pak Harto nyeletuk: Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal malam kan di sini?"

"O tidak," jawab Gus Dur. "Saya harus segera pergi karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar ditinggal di sini. Kan maksudnya buat ngimami (menjadi imam) salat taraweh, kan?"

Pak Harto manggut-manggut.

"Tapi," lanjut Gus Dur, "sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu,"

"Klarifikasi apa?" tanya Pak Harto.

"Harus jelas dulu, tarawehnya mau pakai gaya NU lama atau gaya NU baru?"

"Lho apa ada macam-macam gaya NU? Kalau NU lama bagaimana, kalau NU baru bagaimana?" tanya Pak Harto semakin heran.

"Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Gaya NU baru, disku 60 persen (11 rakaat)!"

Pak Harto cuma tertawa, akrena tidak terlalu paham. Dan Kiai nyeletuk, "Iya deh. Diskon 60 persen pun enggak apa-apa."

Sekadar diketahui, "tarawih diskon" menjadi 11 rakaat itu adalah taraweh gaya Muhammadiyah. Keluarga Pak Harto sendiri disebut orang "hidup dengan gaya Muhammadiyah dan mati dengan cara NU". Sebab, Pak Harto pernah mengaku bahwa dia semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi berakidah Muhammadiyah), tapi ketika istrinya meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan macam-macam acara tahlilan (tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya) yang merupakan "trade mark" NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan tarawih diskon 11 rakaat itu, Pak Harto dengan senang hati menerima saja. Itu artinya dia kembali ke "khittah".

(Ahmad Dani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya