Jamaah Haji Mabit di Muzdalifah dan Tak Lagi Ambil Kerikil, Ini Maknanya

Fahreza Rizky, Jurnalis
Selasa 21 Agustus 2018 06:00 WIB
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA - Setelah jamaah haji Indonesia menjalankan prosesi wukuf di Arafah, jamaah akan bergerak menuju Muzdalifah. Di sini jamaah akan kembali mabit, sesuai yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

Pada momen ini, jamaah umumnya akan mengambil batu krikil untuk melakukan lempar jumrah aqobah di Mina. Seperti diberitakan okezone sebelumnya, jamaah haji Indonesia tahun ini tidak perlu repot mencari batu di Muzdalifah untuk melempar jumrah. Ini karena batu untuk melempar jumrah telah disediakan pengelola maktab.

Tujuannya agar keselamatan jamaah lebih terjamin. Sebab, pernah terjadi peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan jamaah haji menjadi korban. Batu tersebut telah disiapkan Muasassah Arab Saudi, setelah dikumpulkan oleh Kementerian Perhajian Arab. 

Batu tersebut berjumlah sekira 100 butir, namun bila digenggam tidaklah terlalu berat. Batu kerikil ini nantinya akan digunakan jamaah saat melakukan lempar jumrah di Jamarat, yang memiliki 3 tugu di dalamnya yaitu Ula, Wusta dan Aqobah atau lebih dikenal Hotel Setan.

Bagi jamaah haji yang mengambil nafar awal, jumlah batu yang dibutuhkan untuk melempar jumrah yaitu 49 batu. Sementara bagi yang mengikuti nafar tsani membutuhkan 70 batu.

Lalu jika jamaah tidak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan batu, apa yang akan dilakukan di Musdalifah dan apa makna proses ibadah tersebut? Berikut ini seperti dikutip dari buku Haji dan Umrah Mabrur Itu Mudah dan Indah, Senin (20/8/2018).

1. Bahwa Muzdalifah (Masy’aril Haram), merupakan tempat yang secara khusus disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an, bahkan ditempat tersebut kita dianjurkan untuk menyebut nama Allah SWT. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepada mu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang tersesat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 198).

2. Mudzdalifah merupakan tempat “mabit” Rasulullah SAW dan merupakan tempat beliau melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jama’ dan qashar.

Hal ini sebagiamana disebutkan di hadis, yang artinya: “Dari Jabir Ra, berkata,...(tentang haji Rasulullah SAW) kemudian beliau tiba di Muzdalifah, maka beliau salat Maghrib dan Isya dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah di Muzdalifah, dan beliau tidak bertasbih di antara kedua salat tersebut.

Kemudian beliau berbaring hingga fajar dan melaksanakan salat fajar (Subuh) ketika sudah masuk waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali qamat. Lalu beliau menunggangi Al-Qashwa hingga tiba di Masy’aril Haram, kemudian beliau menghadap kiblat, lalu berdoa, bertakbir, bertahlil, (mengucapkan laailahaillallah), dan mentauhidkannya. Beliau terus berdiri di Masy’aril Haram, hingga matahari berwarna kuning sekali (terang)...” (HR Muslim, No. 3009, Kitab Al Hajj, Bab Hajjahal-Nabiy)

3. Di Muzdalifah Rasulullah SAW mabit hingga Subuh, dan beliau secara khusus berdoa, bertakbir, bertahlil, dan mentauhidkan Allah SWT di Masy’aril Haram (Muzdalifah). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jabir poin 2 di atas.

4. Muzdalifah merupakan tempat untuk mengambil kerikil yang digunakan untuk melontar jamarat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan, yang artinya “Dari Humaid, dari Bakr bahwasannya beliau mengambil kerikil untuk melontar jumrah dari Muzdalifah.” (HR Ibnu AbiSyaiban, No. 6, 4/281, riwayat ini tidak terdapat hukum atau derajat riwayatnya).

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Muslim lainnya