Samir mengatakan, apa yang diajarkan oleh imam An-Nadzir berpedoman dari Rasulullah.
"Kalau berdasarkan beberapa hadits, pengamatan bulan bisa dilakukan sejak Rajab dan Sya’ban. Malam ini kita ambil keputusan berdasarkan yang kita pantau," dia melanjutkan.
Dalam penentuan 1 Ramadan, jamaah An-Nadzir berpedoman kepada pengamatan tanda alam berupa bulan dan air pasang. Ilmu tersebut diwariskan dari ajaran imam mereka.
Umumnya, sebelum Ramadan, diamati tiga periode pergerakan bulan. Dimulai dengan melihat kemunculan bulan sempurna pada tanggal 15 bulan Hijriah. Dari sana kemudian diperoleh hitungan bahwa selanjutnya kemunculan bulan setiap hari lebih cepat 54 menit.
"Dengan rumus itu didapatkan perpisahan bulan terjadi Sabtu siang," jelas Samir
Sekadar diketahui, sejarah An-Nadzir berawal dari kedatangan seorang ulama bernama KH Syamsuri Abdul Madjid ke Sulawesi Selatan di tahun 1998. Syamsuri mendirikan majelis Jundullloh dan mendapat banyak pengikut.