Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Bulan Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Sejarah dan Keutamaannya

Rahman Asmardika , Jurnalis-Kamis, 25 Juni 2026 |21:12 WIB
Kenapa Bulan Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Sejarah dan Keutamaannya
Ilustrasi.
A
A
A

JAKARTA - Bagi umat Islam, bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga merupakan salah satu bulan mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan kepedulian sosial. Di Indonesia, Muharram bahkan sering disebut sebagai Bulan Anak Yatim atau dikenal pula dengan istilah Idul Yatama (Lebaran Anak Yatim), khususnya pada tanggal 10 Muharram.

Pada momentum tersebut, berbagai kegiatan santunan anak yatim digelar oleh masjid, lembaga sosial, hingga komunitas masyarakat. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya Muslim Indonesia. Namun, mengapa Muharram begitu identik dengan anak yatim? Apakah hanya sebatas tradisi, atau memang memiliki landasan dalam ajaran Islam?

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) yang disebutkan Allah Swt dalam Al-Qur’an. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt.

Perhatian terhadap anak yatim sendiri memiliki tempat yang sangat istimewa dalam Islam. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan umat Islam untuk menjaga, melindungi, dan memperlakukan anak yatim dengan penuh kasih sayang. Seperti yang tertera dalam Surah Ad-Dhuha:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)

Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, semangat memuliakan anak yatim kemudian makin kuat pada bulan Muharram, terutama pada 10 Muharram atau Hari Asyura. Dari sinilah muncul istilah Lebaran Anak Yatim atau Idul Yatama, yakni momentum untuk berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yang telah kehilangan orang tua mereka.

Tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkan momen ini untuk mengadakan santunan, memberikan hadiah, mengajak anak-anak yatim piatu berwisata edukatif, hingga sekadar meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita dan kebutuhan mereka. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap  mereka bukan hanya soal bantuan materi, tetapi juga tentang menghadirkan kasih sayang dan perhatian yang tulus.

Rasulullah Saw dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi anak yatim. Bahkan beliau sendiri tumbuh sebagai seorang yatim sejak usia dini. Karena itu, perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu nilai penting dalam ajaran Islam.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement