Indonesia kehilangan seorang ilmuan muslim yang taat beribadah. Presiden ke-3 RI BJ Habibie telah berpulang ke Rahmatullah.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir juga merasa kehilangan seorang tokoh besar bagi bangsa Indonesia. BJ Habibie selama ini mengangkat marwah Islam Indonesia yang modern dan berkarakter tanpa kehilangan sikap inklusifnya dalam masyarakat majemuk.
“BJ Habibie peduli pada sumber daya insani yang unggul dan menguasai teknologi, sekaligus menjadi teladan sebagai orang yang selalu menyelaraskan antara kata-katanya dan tindakannya. Para elit dan generasi muslim perlu belajar dari ketokohan Habibie, selaku tokoh besar yang dihormati semua pihak karena integritas dan keteladanannya. Kita kehilangan negarawan besar yang visioner bagi masa depan Indonesia,” terang Haedar.
Ia berharap generasi muslim Indonesia benar-benar belajar dari BJ Habibie.
Menurut Haedar, Habibie adalah presiden pertama di era reformasi yang meletakkan dasar demokratisasi yang menjadi tonggak bagi Indonesia baru.
Seperti dilansir Suara Muhammadiyah, meski terkait dengan Orde Baru dan orang terdekat Soeharto, Habibie justru tampil menjadi negarawan dan demokrat yang kata-katanya sejalan dengan tindakan. Ibarat buku terbuka yang bersedia menerima kritik publik secarara elegan.
“Habibie juga presiden sekaligus tokoh bangsa yang dengan pendidikan Jerman yang ahli pesawat terbang mampu membuka lembaran baru Indonesia yang modern dan maju. Dia sosok moralis dan rasional yang memadukan imtak dan iptek yang sangat relevan bagi bangsa Indonesia di era modern,” tutur Haedar.
Sejatinya, lanjut Haedar, tidak banyak tokoh utama di republik ini yang memiliki karakter dan kualitas lengkap sebagai negarawan sekaligus tokoh kemajuan yang menjadi idola dan role-model generasi muda lintas bangsa. Maka sudah sepatutnya generasi muslim meneladani Habibie.
(Dyah Ratna Meta Novia)