Allah SWT melarang manusia untuk bersikap sombong. Sebab sejatinya semua yang terjadi di muka bumi bisa terlaksana akibat kehendak Allah SWT.
Jangan sampai di dalam hati kita ada rasa sombong sedikitpun sebab semua harta benda yang kita miliki sejatinya milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Apalagi orang yang bersikap sombong tidak akan masuk surga.
Rasulullah SAW bersabda,
لَا يَدخُلُ الجَنَّةَ مَن كَانَ فِي قَلبِهِ مِثقَالُ حَبَّةٍ مِن خَردَلٍ مِن كِبْرٍ.
Artinya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan.”
Menurut sejarah Islam, hal yang yang menyebabkan iblis terusir dari surga adalah memiliki rasa sombong yang luar biasa.
Allah SWT berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِين
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Qs. Al-Baqoroh: 34)
Orang yang sombong selain celaka di akhirat dia juga mengalami kerugian di dunia. Orang yang sombong akan sulit untuk mendapatkan ilmu sebab ilmu itu karakternya seperti air yang hanya mau mengalir ke tempat yang rendah, hati yang merendah.
Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Lirboyo, orang yang sombong selalu tinggi hati. Seperti dikatakan dalam kitab ta’limul muta’allim:
اَلعِلمُ حَربٌ للفَتَى المُتَعَالى كالسَّيلِ حَربٌ لِلمَكَانِ العَالى
Artinya: ”Ilmu itu musuh bagi penyombong diri. Laksana air bah, musuh bagi penyombong diri.”
Kemudian orang yang sombong juga akan sulit menerima kebenaran karena dia merasa paling benar, dan yang orang lain dipandang salah.
Jika seseorang untuk mendapatkan ilmu dan kebenaran itu kesulitan maka dia termasuk orang-orang yang merugi.
Oleh karena itu marilah kita renungi diri kita sendiri, dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Masih pantaskah kita untuk menyombongkan diri.
Allah SWT berfirman,
قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ. مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ. ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ. ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ. ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ
Artinya: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menakdirkannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (Surat Abasa ayat 17-22)
(Dyah Ratna Meta Novia)