SILATURAHIM Nasional (Silatnas) Mahasiswa Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An Nahdliyah (MATAN) bertajuk “MATAN Berdaya, Indonesia Maju” resmi dibuka di Asrama Haji Sudiang Makassar, kemarin. Pembukaan acara tersebut dihadiri oleh Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi.
Dalam sambutannya Fachrul mengatakan Asrama Haji Sudiang Makasar menjadi saksi sejarah mahasiswa dari seluruh Indonesia saling berbagi ilmu pengetahuan, mendiskusikan makna hidup dan kehidupan sekaligus memaknai perjuangan dalam wadah MATAN. Ia juga mengenang peran sufi dalam yang melakukan syiar Islam dengan cara damai.
"Indonesia dengan mayoritas beragama Islam, salah satunya berkat perjuangan para mutashowwifin, para sufi yang membawa Islam dalam corak damai, lentur dan indah sesuai dengan karakter masyarakat nusantara. Tentu dengan tidak mengesampingkan pembawa Islam lainnya di bumi nusantara," ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Kemenag pada Selasa (3/3/2020).
Sejarah telah mencatat peran dan kontribusi para sufi yang ditandai dengan perjuangan Walisongo di Jawa dan para wali lain yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Ini prestasi religius yang sulit dicarikan bandingannya, sehingga mampu mengubah wajah nusantara dengan nilai-nilai dan budaya Islam.
Lebih lanjut, Menag Fachrul mengucapkan terima kasih kepada para penggerak thariqah di Indonesia, khususnya Rais Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN), yaitu Maulana Habib Luthfi bin Yahya sekaligus tokoh MATAN.
Menutur Fachrul MATAN sebagai anak kandung JATMAN adalah bentuk kelembagaan efektif untuk menyebarluaskan Islamnya orang Indonesia yaitu Islam yang bercorak sufisfik. Hal ini menjadi sangat penting agar generasi muda saat ini, utamanya kelompok millenial tidak terputus rantai atau sanad keagamaannnya. Sanad keislaman orang Indonesia sangat jelas, yaitu para ulama dan mutashowwifin hingga kepada Nabi Muhammad SAW.
"Silaturrahim Nasional MATAN kali ini, bagi saya, sangat tepat dan strategis di saat bangsa ini menghadapi masalah sosial keagamaan. Di antaranya, munculnya kontestasi paham dan gerakan keagamaan yang cenderung intoleran dan radikal," tutur Menag.
"Saya yakin dan percaya apa yang saat ini Anda semua lakukan melalui MATAN adalah ikhtiar menyebarkan paham keagamaan yang rahmatan lil alamin. Islam harus disebarkan dengan cara-cara damai, terbuka dan toleran, bukan dengan cara-cara kekerasan. Kita semua narus menebarkan Islam dengan cara merangkul bukan memukul dan menyayangi bukan menyaingi," pungkasnya.
(Abu Sahma Pane)