Di tengah wabah corona (COVID-19), Bulan Suci Ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda. Masjid yang merupakan pusat aktivitas di bulan suci ini tidak lagi seramai bulan–bulan sebelumnya. Untuk sementara, tidak ada sholat berjamaah di masjid, tidak ada pengajian, dan seluruh kegiatan yang mengumpulkan orang banyak tidak dapat lagi diadakan di rumah Allah.
Alhamdulillah, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla, kita masih bisa mendengarkan suara adzan, mengingatkan kita akan kehadiran Allah SWT di masa yang sulit ini. Tentu saja, kita sebagai muslim masih dapat beribadah di rumah, mengerjakan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan dengan khusyuk dan mengharap ridho-Nya.
Sejarah mencatat, bencana alam dan non-alam datang silih berganti. Wajar, Indonesia berada di persimpangan dunia, membentang di khatulistiwa, dianugerahi kekayaaan alam yang melimpah sekaligus berbagai bencana yang kerap merusak tatanan kehidupan yang sudah dibina dengan baik.
Namun demikian, dari kejadian bencana yang telah terjadi, kita dapat mengambil banyak pelajaran bahwa kita sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menjadi kuat dan bertahan dalam menghadapi bencana sebesar apapun. Kekuatan itu adalah kebersamaan. Kebersamaan dalam kebaikan dan persatuan.
Kebersamaan terbukti menjadi kekuatan yang sangat besar dalam menghadapi bencana di sebuah pulau kecil di barat Pulau Sumatera saat terjadi Bencana Gempa bumi dan Tsunami Aceh 2004. Saat ratusan ribu jiwa menjadi korban tsunami, sebagian besar penduduk di Pulau Simeulue berhasil menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Padahal saat itu, tidak ada teknologi peringatan dini.
Jangankan teknologi, pengetahuan tsunami bagi sebagian besar rakyat Indonesia pada saat itu bisa dikatakan masih sangat minim. Alhasil, walaupun posisi Pulau Simeulue sangat dekat dengan pusat gempa bumi, dan tsunami memporak-porandakan desa-desa pesisir, korban jiwa akibat bencana dahsyat ini hanya dalam hitungan jari.
Sebagian besar penduduk berhasil lari ke bukit sesaat setelah kejadian gempa tanpa ada komando formal. Penduduk Pulau Simeulue memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, taat pada nasihat orang tua dan mematuhi pimpinan mereka. Fenomena di Pulau Simeulue menjadi “keajaiban” dunia dan dipelajari banyak pihak di seluruh dunia sebagai salah satu contoh upaya mitigasi bencana paling sukses.
Saat ini, Indonesia sedang didera bencana wabah corona. Dalam upaya mencegah penyebaran virus yang mematikan ini, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang intinya meminta seluruh rakyat Indonesia untuk mengurangi aktivitas di luar rumah seperti bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah.
Kebijakan ini memang terasa sangat memberatkan bagi sebagian besar dari kita, terutama bagi masyarakat ekonomi lemah. Di sinilah rasa kebersamaan kita kembali diuji untuk peduli pada sesama yang sangat membutuhkan. Di Bulan yang suci ini, mari kita tingkatkan lagi untuk saling berbagi, kita sisihkan sebagian rezeki dengan mereka yang sangat membutuhkan. InsyaAllah, kebersamaan dalam berbagi akan sangat meringankan dampak bencana wabah corona yang sangat berat ini.
Mari sejenak kita tahan kerinduan kita untuk beribadah di masjid. Mari kita jaga keluarga tercinta kita dengan tidak mudik. Mari kita doakan mereka yang sedang berjuang keras merawat dan mengobati para pasien. Mari kita lebih peduli pada mereka yang sangat terpukul dengan wabah ini.
Mari kita jaga kebersamaan ini untuk sama-sama berikhtiar melawan ganasnya dampak virus corona. Insya Allah, dengan kebersamaan dalam kebaikan ini kita bisa kembali membuat “keajaiban “ seperti masyarakat di Pulau Simeulue tahun 2004. Kita memiliki kekuatan terbesar dalam menghadapi bencana ini. Kebersamaan dalam kebaikan dan persatuan.
Akhirul kalam, mari kita renungkan kembali ayat Alquran dan Hadits Shohih sebagai berikut:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”(Ali Imran: 103).
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya”( HR Bukhari dan Muslim).
Oleh : Semeidi Husrin (PP ISNU Maritim), email: semeidi@gmail.com
(Muhammad Saifullah )