Nasihat Syeikh Abdul Qodir Al Jailani: Jadilah Musuh Bagi Dirimu Sendiri

Yudistira, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 23:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 616 2264764 nasihat-syeikh-abdul-qodir-al-jailani-jadilah-musuh-bagi-dirimu-sendiri-Vh4cFWql01.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani merupakan wali kutub yang menjadi pijakan umat Islam dalam memahami hakikat dan makna kehidupan yang sesungguhnya.

Cuplikan nasihat Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitabnya Adab As Suluk Wa at Tawaasul Ila Manaazil Al-Muluk kerapkali menjadi penyejuk hati yang gundah.

Sebagaimana yang diunggah melalui kanal YouTube An Nasihah pada Selasa (18/08/2020).

“Alangkah besar kemarahanmu kepada Tuhanmu, prasangka burukmu kepada Allah SWT juga penentanganmu kepada-Nya. Engkau telah menuduhnya berbuat dzalim, mempersulit rezeki , menimpakan kesulitan dan kesengsaraan kepadamu. Tidakkah engkau tahu bahwa segala sesuatu sudah ada ketentuannya dan segala musibah serta kesulitan memiliki tujuan akhir dan manfaat?.

Tidak bisa dipercepat maupun ditunda. Saat datangnya musibah, tidak mungkin berubah menjadi saat sehat. Waktu sengsara tidak mungkin berubah menjadi waktu kesenangan dan keadaan fakir, tidak akan menempati keadaan kaya. Maka indahkanlah sikap dan tingkah lakumu.

Senantiasa diam, sabar, ridlo dan menerima apa saja yang datang dari Tuhanmu . Bertaubatlah kepada-Nya dari kedurhakaan dan tuduhan jelekmu atas perbuatannya. Tidak ada tuntutan tanggung jawab maupun pembalasan terhadap Tuhan tanpa jatuh ke dalam dosa berlawanan dengan dorongan fitrah yang ditemukan pada hubungan antar sesama hambanya.

Allah SWT senantiasa dalam kekekalannya. Lebih dulu dari segala sesuatu yang diciptakannya. Dan telah menciptakan baik-buruknya. Dia mengetahui permulaan dan akhirnya. Tujuan akhirnya dan kesudahannya.

Dia Allah SWT maha bijaksana dalam semua perbuatannya. Telah menyempurnakan ciptaannya. Tidak ada kontradiksi pada ciptaannya. Tidak pernah melakukan kesalahan kebatilan maupun main-main dalam pekerjaannya. Tidak baginya ada kegagalan dan cela dari pekerjaannya. Tunggulah kelapangan jika engkau tidak mampu menghadapinya. Tidak ridlo dan puas akan perbuatanNya. Sampai pada batas waktu yang telah ditentukan”.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini