Tausiyah: Beriman kepada Virus Corona (2)

Sabtu 06 Juni 2020 00:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 06 330 2225340 tausiyah-beriman-kepada-virus-corona-2-8md8rcdxSD.jpg New Normal Covid-19 (Foto: Shutterstock)

JIKA kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat kita secara egois meneriakkan ‘pokoknya lockdown’, atau ‘PSBB harga mati’. Pada beberapa kelompok, PSBB adalah ‘kematian’ itu sendiri.

Yang perlu dilakukan adalah mencari titik tawazun, keseimbangan. Bukan saling menafikkan, tetapi meletakkan kepentingan kesehatan dan ekonomi secara proporsional agar masyarakat tidak terjengkang dalam satu lubang yang justru menyengsarakan banyak pihak.

Kita tak perlu berdamai dengan Corona. Corona bukan manusia yang tangannya dapat kita jabat, yang pikirannya dapat kita terka, yang tandatangannya dapat kita minta dibubuhkan di atas meterai. Mengatakannya sebagai ‘perdamaian’ adalah kekusutan logika untuk menyembunyikan hasrat penyerahan diri dan ketaklukan. Sama seperti tak perlu pula menyebutnya sebagai new normal.

(Baca Juga : 10 Nama Islami Bayi Laki-Laki Terinspirasi dari Fizi Sahabat Upin Ipin)

Pertama, normal untuk siapa? Kedua, apakah memang selama ini kita hidup normal? Bisa jadi kita hanya berpindah dari abnormalitas satu ke abnormalitas lainnya. Ketiga, apakah kita begitu terburu-buru menyebutnya sebagai ‘new’ karena tak sanggup lagi bertarung mati-matian menghadapinya? Menyerah, takluk.

Terminologi-terminologi sophisticated itu tak ada maknanya jika tidak disertai dengan langkah nyata yang strategis.

Kita butuh cara pandang baru. Keluar dari kejumudan, statisnya cara berpikir yang itu-itu saja. Kita melihat kurva setiap hari, menunggu pengumuman di televisi untuk mendengar berapa lagi kasus positif yang ditemukan.

(Baca Juga: JK Sebut Masjid Lebih Aman ketimbang Mal dan Pasar)

Menginformasikan hal yang itu-itu saja tanpa ada terobosan baru dan inovasi olahan data yang kita kumpulkan. Kita yang mendengar pun ikutan gamang tingkat dewa. Di satu sisi, kita repot-repot berteriak bahwa kita tak lagi percaya data pemerintah. Tetapi, di sisi lain, kita diam-diam menikmatinya dan menuntutnya tetap dipublikasikan.

Sudah saatnya kita memperbaiki data dan kepakaran. Di belahan dunia lain, orang sudah membincangkan effective reproduction rate (Rt) untuk dijadikan dasar terus atau tidaknya lockdown diberlakukan.

Sebelumnya, Angela Merkel, Kanselir Jerman, dapat dengan lincah menjelaskan situasi Jerman menggunakan pendekatan reproduction number, dan apa dampaknya jika lockdown diangkat atau diteruskan, serta berapa lama prediksinya hingga penduduknya benar-benar aman beraktivitas kembali seperti sedia kala.

(Baca Juga: Beriman kepada Virus Corona Part 1)

Namun, Rt itu juga bukan segala-galanya. Apakah bila ditekan hingga Rt=1, atau lebih rendah dari itu, berarti kondisi aman dan terkendali? Tidak juga. Bayangkan bila angka kepositifan perhari saat ini 500, dan Rt=1, maka setiap hari tetap ada 500 orang teridentikasi kasus positif.

Di mana mereka yang positif? Seberapa banyak dari mereka yang butuh ruang rawat inap, bahkan isolasi dan ICU? Rt itu mengindikasikan dua hal. Pertama, keberhasilan containment, menekan penyebaran lewat strategi distancing atau lock down. Atau, kedua, indikasi bahwa infeksi akan segera mencapai titik jenuh karena orang-orang sudah banyak yang terinfeksi.

Maka, kita butuh variabel lain untuk dapat mengelaborasinya: jumlah admisi ke rumah sakit, kesiapan sumber daya kesehatan, dan responsivitas sistem. Beban yang harus ditanggung oleh layanan kesehatan inilah yang perlu menjadi perhatian utama.

Ketika beban tersebut katastrofik, tak mampu ditanggung, maka akan terjadi hambatan akses yang berisiko meningkatkan angka kematian. Banyak pasien yang meninggal karena tidak dapat mengakses layanan kesehatan yang adekuat dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Membuka lockdown, PSBB, atau apapun namanya, juga bukan seperti membuka ruko di cluster yang baru dibangun. Asal jadi. Tetapi, pilah berdasarkan kelompok yang risikonya paling besar hingga paling kecil.

Jika anak-anak secara ilmiah terbukti memiliki risiko paling rendah bergejala berat meski telah terinfeksi – dan risiko menularkan yang juga rendah, mereka dapat menjadi kelompok yang paling awal mendapatkan kesempatan dibuka dari kerangkeng lockdown.

Sekolah dapat dimulai, tetapi harus ada aturan ketat yang membuat mereka masuk secara bergilir agar sekolah tidak penuh. Mereka harus diperlakukan secara berbeda dibandingkan orang dewasa agar tidak tumbuh menjadi generasi coronial karena mentalnya terdampak signifikan akibat kebijakan anticorona yang panjang dan tidak jelas.

Ekonomi perlu dibuka. Tetapi, siapa yang harus diutamakan? Pasar dan ekonomi riil atau perusahan besar dengan beban utang mahabesar – yang jika dibiarkan akan bangkrut dan memberi penderitaan besar pada negara? Prinsipnya jelas bahwa kemanusiaan harus dikedepankan.

Semuanya harus dilakukan secara logis dan konsisten. Petinggi negara dan masyarakat juga harus memahami benar bahwa belum ada strategi pamungkas yang benar-benar jitu menangani corona. Semua orang, segala negara, tengah menuntut ilmu kepada corona. Belajar yang paling utama saat ini adalah melakukan trial and error.

Kita menganggap sinis setiap kali kata herd immunity dilontarkan seolah herd immunity adalah setan yang harus dimusnahkan. Padahal, herd immunity adalah sebuah keniscayaan. Pada satu titik jauh di depan nanti, ia akan tercapai, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Bukan soal terma atau istilahnya yang penting, tetapi bagaimana cara kita mencapainya dengan tepat dan bijaksana sehingga herd immunity bukan diletakkan sebagai tujuan, tetapi efek dari strategi yang diimplementasikan.

(Baca Juga : Mualaf Daud Kim Yakin Islam Cocok Bagi Warga Korea)

Upaya lockdown atau PSBB di satu sisi mungkin akan memberikan dampak menahan laju sebaran infeksi. Tetapi di sisi lain, ia meninggalkan celah besar bagi kejadian infeksi dan outbreak di kemudian hari karena masih banyaknya orang yang belum terinfeksi. Dengan geografi negara kita yang terhampar demikian besar, akan selalu ada potensi outbreak dan kedatangan gelombang (wave) berikutnya. Satu, dua, tiga, atau berkali-kali. Siapa yang tahu?

Coronavirus jenis ini akan terus berkeliaran dan menimbulkan kepositifan pada mereka yang belum pernah terinfeksi. Sampai mencapai titik jenuhnya. Lockdown, PSBB, atau apapun namanya bukanlah obat, tetapi harus dipahami dengan baik sebagai upaya strategis untuk menahan laju penyebaran virus agar beban layanan kesehatan tidak melewati batas katastrofik.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Centre, Rotterdam, Belanda dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini