JIKA kita yakin bahwa Corona adalah bagian qadha dan qadar-nya Allah, keimanan terhadapnya tidak membuat kita secara egois meneriakkan ‘pokoknya lockdown’, atau ‘PSBB harga mati’. Pada beberapa kelompok, PSBB adalah ‘kematian’ itu sendiri.
Yang perlu dilakukan adalah mencari titik tawazun, keseimbangan. Bukan saling menafikkan, tetapi meletakkan kepentingan kesehatan dan ekonomi secara proporsional agar masyarakat tidak terjengkang dalam satu lubang yang justru menyengsarakan banyak pihak.
Kita tak perlu berdamai dengan Corona. Corona bukan manusia yang tangannya dapat kita jabat, yang pikirannya dapat kita terka, yang tandatangannya dapat kita minta dibubuhkan di atas meterai. Mengatakannya sebagai ‘perdamaian’ adalah kekusutan logika untuk menyembunyikan hasrat penyerahan diri dan ketaklukan. Sama seperti tak perlu pula menyebutnya sebagai new normal.
(Baca Juga : 10 Nama Islami Bayi Laki-Laki Terinspirasi dari Fizi Sahabat Upin Ipin)
Pertama, normal untuk siapa? Kedua, apakah memang selama ini kita hidup normal? Bisa jadi kita hanya berpindah dari abnormalitas satu ke abnormalitas lainnya. Ketiga, apakah kita begitu terburu-buru menyebutnya sebagai ‘new’ karena tak sanggup lagi bertarung mati-matian menghadapinya? Menyerah, takluk.
Terminologi-terminologi sophisticated itu tak ada maknanya jika tidak disertai dengan langkah nyata yang strategis.
Kita butuh cara pandang baru. Keluar dari kejumudan, statisnya cara berpikir yang itu-itu saja. Kita melihat kurva setiap hari, menunggu pengumuman di televisi untuk mendengar berapa lagi kasus positif yang ditemukan.
(Baca Juga: JK Sebut Masjid Lebih Aman ketimbang Mal dan Pasar)
Menginformasikan hal yang itu-itu saja tanpa ada terobosan baru dan inovasi olahan data yang kita kumpulkan. Kita yang mendengar pun ikutan gamang tingkat dewa. Di satu sisi, kita repot-repot berteriak bahwa kita tak lagi percaya data pemerintah. Tetapi, di sisi lain, kita diam-diam menikmatinya dan menuntutnya tetap dipublikasikan.
Sudah saatnya kita memperbaiki data dan kepakaran. Di belahan dunia lain, orang sudah membincangkan effective reproduction rate (Rt) untuk dijadikan dasar terus atau tidaknya lockdown diberlakukan.
Sebelumnya, Angela Merkel, Kanselir Jerman, dapat dengan lincah menjelaskan situasi Jerman menggunakan pendekatan reproduction number, dan apa dampaknya jika lockdown diangkat atau diteruskan, serta berapa lama prediksinya hingga penduduknya benar-benar aman beraktivitas kembali seperti sedia kala.
(Baca Juga: Beriman kepada Virus Corona Part 1)
Namun, Rt itu juga bukan segala-galanya. Apakah bila ditekan hingga Rt=1, atau lebih rendah dari itu, berarti kondisi aman dan terkendali? Tidak juga. Bayangkan bila angka kepositifan perhari saat ini 500, dan Rt=1, maka setiap hari tetap ada 500 orang teridentikasi kasus positif.
Di mana mereka yang positif? Seberapa banyak dari mereka yang butuh ruang rawat inap, bahkan isolasi dan ICU? Rt itu mengindikasikan dua hal. Pertama, keberhasilan containment, menekan penyebaran lewat strategi distancing atau lock down. Atau, kedua, indikasi bahwa infeksi akan segera mencapai titik jenuh karena orang-orang sudah banyak yang terinfeksi.