Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tausiyah: Beriman kepada Virus Corona (2)

Tausiyah: Beriman kepada Virus Corona (2)
New Normal Covid-19 (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Maka, kita butuh variabel lain untuk dapat mengelaborasinya: jumlah admisi ke rumah sakit, kesiapan sumber daya kesehatan, dan responsivitas sistem. Beban yang harus ditanggung oleh layanan kesehatan inilah yang perlu menjadi perhatian utama.

Ketika beban tersebut katastrofik, tak mampu ditanggung, maka akan terjadi hambatan akses yang berisiko meningkatkan angka kematian. Banyak pasien yang meninggal karena tidak dapat mengakses layanan kesehatan yang adekuat dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Membuka lockdown, PSBB, atau apapun namanya, juga bukan seperti membuka ruko di cluster yang baru dibangun. Asal jadi. Tetapi, pilah berdasarkan kelompok yang risikonya paling besar hingga paling kecil.

Jika anak-anak secara ilmiah terbukti memiliki risiko paling rendah bergejala berat meski telah terinfeksi – dan risiko menularkan yang juga rendah, mereka dapat menjadi kelompok yang paling awal mendapatkan kesempatan dibuka dari kerangkeng lockdown.

Sekolah dapat dimulai, tetapi harus ada aturan ketat yang membuat mereka masuk secara bergilir agar sekolah tidak penuh. Mereka harus diperlakukan secara berbeda dibandingkan orang dewasa agar tidak tumbuh menjadi generasi coronial karena mentalnya terdampak signifikan akibat kebijakan anticorona yang panjang dan tidak jelas.

Ekonomi perlu dibuka. Tetapi, siapa yang harus diutamakan? Pasar dan ekonomi riil atau perusahan besar dengan beban utang mahabesar – yang jika dibiarkan akan bangkrut dan memberi penderitaan besar pada negara? Prinsipnya jelas bahwa kemanusiaan harus dikedepankan.

Semuanya harus dilakukan secara logis dan konsisten. Petinggi negara dan masyarakat juga harus memahami benar bahwa belum ada strategi pamungkas yang benar-benar jitu menangani corona. Semua orang, segala negara, tengah menuntut ilmu kepada corona. Belajar yang paling utama saat ini adalah melakukan trial and error.

Kita menganggap sinis setiap kali kata herd immunity dilontarkan seolah herd immunity adalah setan yang harus dimusnahkan. Padahal, herd immunity adalah sebuah keniscayaan. Pada satu titik jauh di depan nanti, ia akan tercapai, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Bukan soal terma atau istilahnya yang penting, tetapi bagaimana cara kita mencapainya dengan tepat dan bijaksana sehingga herd immunity bukan diletakkan sebagai tujuan, tetapi efek dari strategi yang diimplementasikan.

(Baca Juga : Mualaf Daud Kim Yakin Islam Cocok Bagi Warga Korea)

Upaya lockdown atau PSBB di satu sisi mungkin akan memberikan dampak menahan laju sebaran infeksi. Tetapi di sisi lain, ia meninggalkan celah besar bagi kejadian infeksi dan outbreak di kemudian hari karena masih banyaknya orang yang belum terinfeksi. Dengan geografi negara kita yang terhampar demikian besar, akan selalu ada potensi outbreak dan kedatangan gelombang (wave) berikutnya. Satu, dua, tiga, atau berkali-kali. Siapa yang tahu?

Coronavirus jenis ini akan terus berkeliaran dan menimbulkan kepositifan pada mereka yang belum pernah terinfeksi. Sampai mencapai titik jenuhnya. Lockdown, PSBB, atau apapun namanya bukanlah obat, tetapi harus dipahami dengan baik sebagai upaya strategis untuk menahan laju penyebaran virus agar beban layanan kesehatan tidak melewati batas katastrofik.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Centre, Rotterdam, Belanda dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

(Muhammad Saifullah )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement