Habib Ali Ungkap Hakikat Cinta Layla Majnun

Yudistira, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 23:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 330 2264775 habib-ali-ungkap-hakikat-cinta-layla-majnun-5TqyAMPlMA.jpg

Imam Syafi’I ra berkata “ketika cinta sudah berbicara, maka semuanya bisa menjadi nyata”. Cinta merupakan fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia. Cinta juga menjadi sumber energi bagi seorang hamba yang melaksanakan ibadah kepada Tuhannya.

Sebagaimana dilansir dari YouTube Lisan Hamba, Habib Ali Zaenal Abidin Al Kaff dalam ceramahnya menyampaikan hakikat cinta Qais atau Majnun kepada Layla.

“Sebuah riwayat mengatakan bahwa rupa seorang Layla tidaklah cantik secara fisik sebagaimana yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Namun ketika seseorang sedang mengalami jatuh cinta, maka seseorang itu akan buta,” terang Habib Ali Zaenal Abidin Al Kaff.

Modal utama dalam beribadah kepada Allah SWT adalah cinta. Hal ini dikiaskan sebagaimana kisah Layla-Majnun yang disampaikan oleh Habib Ali.

“Ketika kita hendak memperoleh kekhusyu-an dalam shalat maupun ibadah apapun, maka utamakanlah cinta. Setelah cinta tumbuh dalam hati kita, maka dalam melaksanakan ibadah apapun, kita akan merasakan nikmat. Suatu hari, Qais berjalan di padang pasir. Dalam perjalanannya, ia mendapati beberapa musafir sedang menegakkan shalat. Ia kemudian duduk di depan mereka. Pada saat Qais duduk, para musafir dengan tergesa menyelesaikan shalatnya. Setelah selesai, mereka bertanya pada Qais, ‘ hai Majnun, mengapa engkau mengganggu ibadah kami? Mengapa kau menghalangi kami ketika sedang bermesraan dengan Tuhan kami?’ dengan sangat tenang Majnun menjawab ‘apakah kalian benar-benar sedang shalat? Apakah kalian sungguh-sungguh sedang bercinta dengan Tuhan?’

Mendengar jawaban ini, para musafir marah dan bertanya ‘apa maksud engkau berbicara seperti itu?’ kemudian Majnun menjawab ‘ketika aku memasuki kampung halaman Layla, aku tidak menengok ke kanan dan ke kiri. Mataku hanya fokus pada jalan menuju rumahnya, sebab yang ada dalam pikiran dan hatiku, hanyalah Layla”.

Dalam beribadah, kita perlu tahu siapa yang sedang kita agungkan seperti halnya pada saat bertakbir, kita harus mampu memahami ucapan takbir tersebut dengan landasan cinta.

“Cinta mampu menghasilkan muttaba’ah (pengikut) dan kesabaran. Suatu hari seorang ulama uyang bernama Asy Syibli dipenjarakan. Dalam keadaan seperti itu, para muridnya menjenguk dengan membawakan banyak hadiah berupa, bingkisan,makanan,pakaian dan sebagainya. Sesampainya di depan sang guru, mereka dilempari batu. Kemudian mereka pergi meninggalkan sang guru. As Syibli kemudian beujar ‘apabila kalian cinta, pasti kalian akan sabar ketika aku melempari batu,” ujar Habib Ali.

Cinta juga perlu pembuktian, dengan cinta seseorang akan mengagungkan Allah SWT. Para ulama dalam berdakwah, mengajak umatnya untuk beragama dengan cinta. Habib Ali kemudian berpesan kepada jamaahnya untuk saling menumbuhkan rasa cinta dimanapun berada.

“Apabila di hati kita sudah tumbuh rasa cinta, maka kita akan bersatu. Tidak akan bergerak berdasarkan organisasi atau golongan tertentu. Ketika cinta sudah bersama kalianmaka yang akan kalian rasakan adalah keindahan dalam beribadah. Maka, mari bersama-sama sebarkan cinta dimanapun diri kita berada,” pungkasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini