Tausiyah: Beriman kepada Virus Corona (1)

Kamis 04 Juni 2020 04:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 04 330 2224180 tausiyah-beriman-kepada-virus-corona-1-rr3N0XSyYX.jpg

Apa yang kita pahami tentang coronavirus barangkali baru seujung kuku pengetahuan coronavirus yang sebenarnya.

Kita merasa telah berhasil sebagai manusia – makhluk paling super di muka bumi – ketika satu per satu epidemi kita tuntaskan dengan cepat. Kaum cerdik cendikia dan politisi dapat berbangga dengan itu semua; sedangkan kaum jelata cukup membanggakan mereka yang dengan kepandaian dan kecepatan gerak kebijakannya berhasil membuat napas proletar dapat bertahan lebih lama.

Ketika novel coronavirus – virus jenis corona yang baru dan kemudian diberi nama Sars-Cov2 ini – menyebar di muka bumi, kita ternyata masih tergagap-gagap. Badan Kesehatan Dunia, WHO sempat maju mundur sebelum akhirnya menyatakan pandemi, dan kini bertarung urat saraf dengan Presiden AS Donald Trump untuk membuktikan bahwa maju mundurnya mereka kala itu memang bukan sebuah kesengajaan politik, bukan konspirasi global, bukan perbuatan makar untuk menggoyang-goyang kekuasaan dunia yang selama lebih dari satu abad berpusat di utara benua Amerika.

Kita menggugu Trump – meski dengan skala dan kecermatan yang berbeda. Kita mengolah-olah informasi, menunjuk hidung konspirasi sebagai akar masalah Corona. Mula-mula China kita tuding tengah diazab Allah karena menyengsarakan komunitas Muslim Ughyur.

(Baca Juga: Tanda-Tanda Jodoh Menurut Alquran, Cek Benarkah Dia Jodohmu?)

Saat China benar-benar menderita, kita terbawa arus desas desus dengan menyebut ini ulah konspirasi Amerika. Ketika Amerika berganti menderita, kita mencari-cari ulang dalang di belakang ini semua: China, Amerika, nasionalis, globalis, bussinessman, atau siapalah yang kita tuding secara semrawut dengan data ala kadarnya.

Teori konspirasi itu sesungguhnya hanya menenggelamkan keimanan kita seolah kita lupa bahwa wamakaruu wamakarallah; setiap sendi kehidupan di dunia ini memang tengah melakukan konspirasi, strategi, program-program intervensi mereka masing-masing.

Keniscayaan itu sama niscayanya dengan kenyataan bahwa Allah juga tengah melangsungkan Mahadya KonspirasiNya. Bahwa ada indikasi konspirasi, beberapa kelompok terduga menyembunyikan informasi pengembangan virus, dan kelompok lain bermain-main dengan mengembangan vaksin antivirusnya, semua itu adalah kenyataan yang mesti kita terima sebagai dinamika global.

Kaum jelata semacam kita hanya perlu mengimani dengan penuh: wallahu khairul maakiriiin. Yang memiliki Mahahendaya di muka bumi ini hanyalah Allah. Sehingga kita percaya bahwa seberapapun mendekati kebenarannya teori konspirasi itu, ia tidak akan mencapai kesempurnaan konspirasi.

(Baca Juga : Tangis Pilu Muazin Pecah saat Kumandangkan Azan di Tengah Wabah COVID-19)

Ada banyak variabel yang tidak dapat dikendalikan penuh manusia meski dengan teknik analisis paling canggih sekalipun. Ada ruang kosong pemodelan yang tak dapat disentuh oleh tangan dan pikiran manusia; dan hanya Allah yang dapat memasukinya. Dengan begitu, kita tak perlu pusing dengan segenap teori konspirasi yang mengular di media sosial, televisi, dan perdebatan-perdebatan.

Corona itu ada. Kita meyakininya. Tetapi, kita tak perlu mengimani corona secara membabi buta, menelan segala informasi tentangnya dari detik ke detik, lalu mencemaskannya secara berlebihan tanpa ada strategi apapun yang kita upayakan dengan maksimal untuk diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, bahkan negara dan dunia kita.

Jikapun kita meyakininya, corona ini semestinya kita imani dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah bahwa ia bagian dari kehendak qadha dan qadar-nya Allah; khairihi wa syarrihi. Sisi buruknya sekaligus segala sisi baiknya.

Jangan sampai tersuruk seperti beberapa orang Yahudi di Madinah ketika mereka menertawakan Muhammad bahwa Tuhannya terlalu naif dengan menyampaikan permisalan seekor lalat, laba-laba, dan makhluk-makhluk kecil lainnya. Mereka – Yahudi Madinah itu – mengolok-olok, “Kalau Allah itu Mahatinggi, mengapa Ia membuat permisalan dengan makhluk kecil?“

Kita memang tak mengolok-olok Allah secara verbal segamblang itu, tetapi kadang melangsungkan penolakan-penolakan yang sama sekali tidak mencerminkan faya’lamuuna annahul haqqu min rabbihim. Kita kehilangan kewarasan dengan menyingkirkan Allah dari ruang-ruang politik dan kebijakan.

Kita menafikkan sains dan mengabaikan bukti ilmiah padahal keduanya adalah anak tangga ketuhanan yang tak bisa dilepaskan sama sekali dari keimanan. Laa tanfudzuuna illa bisulthaan. Bumi dan langit ini tidak dapat ditaklukkan kecuali dengan memahami data, menguasai sains dan pengetahuan sosial, dan menghimpun bukti ilmiah sebagai dasar langkah intervensi.

Jikapun kita yakin Corona adalah bagian dari kehendak Allah, keimanan kita kepada Corona juga harus didudukkan secara proporsional dalam perspektif yang komprehensif: ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan kesehatan.

Kita sering menabrak-nabrakkan antara kepentingan kesehatan dan kepentingan ekonomi seolah keduanya harus selalu saling mengalahkan. Padahal, jika melihat tujuan (maqashid) keduanya secara tepat, tak ada alasan untuk membentur-benturkannya. Pengendalian epidemi penyakit dan penguatan layanan kesehatan dapat dipahami dengan mudah sebagai langkah menyelamatkan nyawa banyak manusia. Hifzh an nafs.

Pada sisi yang lain, penyelamatan ekonomi juga berupaya demikian. Yang dapat kita bayangkan dari bisnis yang berhenti dalam skala besar dan tempo yang lama adalah angka pengangguran yang meningkat – yang secara simultan berisiko meningkatkan pula gangguan mental, depresi, bahkan angka bunuh diri.

(Baca Juga : Viral Kata Corona Ada dalam Ayat Alquran? Ini Penjelasannya)

Kita memang tak memiliki datanya saat ini, tetapi pengalaman resesi besar (great recession) di tahun 2008 mencatat angka mengejutkan. Dalam tempo singkat, angka bunuh diri di Amerika meningkat 3.8%, setara dengan kematian 1330 jiwa bunuh diri.

Mereka yang kehilangan pekerjaan, dan terjebak dalam jurang kefakiran, juga berisiko lebih besar untuk mencari pembenaran melakukan kekufuran di tengah keserbatidakpastian lapangan pekerjaan. Produksi mampet. Jumlah pekerja terpaksa dikurangi.

Persoalan ekonomi semacam ini harus secara serius ditempatkan sebagai variabel determinan dalam keputusan kita menghadapi problem coronavirus. Pada titik ini, upaya pengendalian ekonomi juga harus dimaknai dan, tentu saja, ditujukan sebagai langkah penyelamatan jiwa, bahkan agama. Hifzh ad diin.

Oleh: dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Centre, Rotterdam, Belanda dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini