DI TENGAH pandemi virus corona (COVID-19), kebiasaan masyarakat saat bulan Ramadhan sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena pandemi ini telah memaksa pemerintah membuat kebijakan pembatasan perjalanan, pertemuan, dan ibadah yang sebelumnya belum pernah terjadi.
Tak terkecuali diaspora Indonesia yang berada di luar negeri. Masa pandemi ini membuat mereka menyesuaikan kondisi saat ini. Seperti yang dialami Shirly Miner, seorang guru SMA di negara bagian Virginia.
Sejak Dinas Pendidikan Fairfax atau Fairfax County Public Schools tempat ia bekerja mengharuskan untuk melakukan kegiatan pendidikan dari rumah, ia dan anak-anaknya terpaksa mengikuti kewajiban menjaga jarak aman (physical distancing) dari pemerintah setempat dan berdiam di rumahnya.
Sebelum pandemi, Shirly sering mengundang teman-teman dan tetangga yang belum mengetahui tentang tradisi Islam Indonesia untuk berbuka puasa. Acara itu biasanya menjadi ajang Shirly memperkenalkan makanan Indonesia. Namun, kali ini buka bersama terpaksa diurungkan.
"Sekarang, mungkin kita akan mengirim bungkusan makanan dengan memberi kartu terima kasih atas persaudaraan mereka, dan menjelaskan bungkusan juga. Soalnya bisa bingung kalau mereka dikasih ketan hitam atau cendol tanpa penjelasan, kan?" ujar Shirly dikutip VOA Indonesia, Jumat (15/5/2020).
Shirly bersama keluarnya berpindah tempat tinggal ke berbagai negara. Dia mengikuti suaminya yang bertugas. Namun sebagai warga Amerika keturunan Indonesia, ia masih sangat aktif memperkenalkan tradisi budaya Indonesia.
Dengan merebaknya virus corona yang mengakibatkan semua orang harus membatasi kegiatan di luar rumah, cara memperkenalkan budaya Indonesia tersebut juga ia sesuaikan dengan keadaan.
Hal senada juga dialami Nurul Fathiyah, seorang diaspora Indonesia. Ramadhan sebelumnya dia sangat antusias melakukan aktivitas peribadahan sekaligus kegiatan sosial. Namun kali ini menjadi berbeda karena wabah virus corona menyebabkan dia harus meniadakan kegiataan keagamaan di luar.
“Sedih iya, karena biasanya kita pergi ke masjid untuk tarawih tiap malam, terus ada tadarusan mingguan, tilawah bersama teman-teman atau grup mengaji halaqah, tapi sekarang ditiadakan," ujarnya.
Namun kerinduan beribadah bersama, kata Nurul, terobati dengan ibadah secara online. Seperti Halaqah dan Tilawah harian melalui aplikasi Zoom. Bersama keluarganya, dia terpaksa merubah tradisi di bulan Ramadan.