KASUS penjemputan paksa jenazah Pasien Dalam Pemantauan (PDP) Covid-19 terjadi di beberapa daerah, seperti Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Bekasi, Jawa Barat. Pihak keluarga bersikeras mengambil jenazah lantaran tidak percaya anggota keluarganya meninggal akibat Covid-19.
Di sisi lain, aparat dan publik geram lantaran potensi penularan Covid-19 semakin terbuka lebar. Lalu bagaimana pandangan dalam Islam tentang kasus tersebut? Apakah juga mencoreng citra Islam karena oknum pengambil jenazah meneriakkan kalimat takbir?
Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Abbas mengatakan, jika ditinjau lebih jauh secara syariah urusan jenazah adalah urusan keluarga bukan negara.
Baca juga: 7 Cara Mempercantik Diri Sesuai Syariat Islam
“Tapi kalau jenazah yang terkena Covid-19, maka negara harus hadir untuk mengaturnya karena itu menyangkut kemashlahatan orang banyak. Adalah sangat berbahaya jenazah Covid ditangani oleh orang yang tidak punya ilmu dalam mengurusnya,” katanya saat berbincang dengan Okezone, Kamis (11/6/2020).
Lebih lanjut, kata Kiai Anwar, pemerintah harus bisa membuktikan bahwa jenazah yang diduga terpapar Covid-19 tersebut sudah dipastikan positif, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penjemputan paksa jenazah.
“Kenapa mereka ambil paksa? Tentu ada sebabnya. Apa kira-kira yang menjadi penyebabnya, salah satunya karena ada jenazah yang dinyatakan terkena Covid, padahal hasil swabnya yang didapat setelah jenazah dikuburkan ternyata negatif. Apa hal ini tidak membuat masyarakat curiga dan macam-macam,” tuturnya.
Maka untuk kebaikan dan keselamatan bersama, MUI mengimbau kepada umat Islam agar tetap waspada dan menjaga diri serta keluarga, supaya tidak terpapar virus corona.
“Untuk itu, MUI sangat mengharapkan kepada seluruh anggota masyarakat agar benar-benar disiplin dalam mematuhi protokol medis yang ada, Ini penting karena dengan cara seperti itulah kita akan bisa memutus mata rantai penularan Covid-19 ini, sehingga dengan demikian diharapkan kehidupan masyarakat akan bisa cepat kembali normal, roda kehidupan ekonomi akan dapat berputar lagi seperti semula,” tuturnya.
(Rizka Diputra)