DALAM sebuah riwayat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat seorang warga yang enggan memasukkan (mengikat) untanya dengan alasan dirinya bertawakal. Kemudian Rasulullah berkata, "Ikatlah dahulu untamu, barulah bertawakal!"
Dalam riwayat lain, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam hendak pergi dari Kota Makkah ke Madinah, beliau dikejar oleh kaum kafir Quraisy. Di tengah pengejaran itu, Nabi Muhammad bersama dua sahabat kemudian bersembunyi di dalam gua di Jabar Tsur. Dalam persembunyian tersebut, dengan memastikan tidak akan terlihat kaum Quraisy yang mengejarnya, Rasulullah barulah berkata, "Jangan takut, Allah ada bersama kita."
Dari kedua riwayat tersebut bisa disimpulkan bahwa sikap tawakal sejatinya muncul setelah melakukan ikhtiar atau usaha. Tawakal sendiri memiliki makna berserah diri atas segala keputusan dan segala perkara yang telah diikhtiarkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana Buya Hamka membahasnya dalam buku 'Tasawuf Modern' bab VII tentang Tawakal.
Di tengah masyarakat, antara ikhtiar dan tawakal kerap dibentur-benturkan. Hal ini muncul lantaran adanya ketidakpahaman mengenai konsep tawakal itu sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa bertawakal artinya semata menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai Sang Mahakuasa. Tentu saja, Allah dengan kemahakuasaannya sangat bisa mengurusi segala sesuatu. Bahkan, segala sesuatu sudah ada dalam qadha dan qadar-Nya. Tentang apa-apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah.
Namun dalam kaitannya dengan tawakal, pemahaman segala urusan diserahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan mengabaikan ikhtiar adalah pemahaman yang sempit dan keliru, bahkan sesat. Bila kita kembali pada ilustrasi riwayat Nabi sebelumnya, guna menjaga unta saja sahabat mesti mengikatnya dulu baru kemudian bertawakal. Mengikat unta adalah ikhtiar agar unta tidak kabur atau tidak mudah dicuri oleh maling.
Masalah unta itu apakah akan kabur atau tidak, apakah akan ada yang mencurinya atau tidak, itu kita kembalikan kepada keputusan Allah. Bila takdir sudah mencatat bahwa unta tersebut akan hilang, maka sebagaimanapun kita menjaganya dalam kandang pasti akan hilang juga dengan berbagai kemungkinannya.
Buya Hamka dalam bukunya menerangkan bahwa ikhtiar yang kita lakukan tidaklah membuat kita keluar dari garis tawakal. Artinya, berikhtiar itu menjadi bagian dari tawakal itu sendiri. Ikhtiar adalah cara kita meyakini dan menjalankan sunatullah dalam kehidupan ini.
(Baca Juga: 6 Orang yang Doanya Selalu Diterima Allah Ta'ala)
Bila di suatu negeri terdapat bahaya semacam wabah penyakit, alangkah baiknya bila kita menghindar. Baik dengan cara tidak masuk ke daerah itu atau masuk ke daerah itu dengan berbagai perlindungan yang bisa menghindarkan kita dari terpapar penyakit. Kedua opsi itu adalah ikhtiar yang mesti kita lakukan guna membarengi sikap tawakal kita terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala.
Praktik tawakal yang tidak dibarengi ikhtiar, menurut Hamka, adalah suatu kesia-siaan. "Tidaklah bernama tawakal bila kita tidur di bawah pohon kayu yang lebat buahnya, seperti durian. Karena kalau buah itu jatuh digoyang angin, kita ditimpanya, itu adalah sebab dari kesia-siaan kita,” kata Buya Hamka.
Tidaklah keluar dari garisan tawakal, kata Hamka, jika dikuncikan pintu lebih dulu sebelum keluar rumah, ditutupkan kandang ayam sebelum hari malam, dimasukkan kerbau ke kandang sebelum hari senja. Hal itu tindakan yang tepat menurut sunatullah. Karena sunatullah-nya, rumah yang dikunci rapat bisa menahan maling untuk masuk dan ditutupnya kandang bisa mencegah hewan peliharaan kabur atau dicuri orang.