Kepada pria itu Abdullah berkata, "Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi calon penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?" tanyanya.
Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, "Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini." Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn Amr.
Namun ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya. Ia berkata kepada Abdullah, "Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Namun, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya."
Mendengar perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tidak pernah iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk surga.
Ia pun malu karena banyak dari Muslimin yang tidak memerhatikan akhlak tersebut. Tak hanya ibadah semata yang mengantarkan manusia merasakan surga Allah Subhanahu wa ta'ala, tetapi juga amalan kebaikan, termasuk sifat dan akhlakul karimah.
"Kemungkinan amalan inilah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Ini adalah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan," ujar Abdullah girang mendapat jawaban sekaligus pelajaran berharga.
Tidak sia-sia Abdullah menginap tiga hari bersama sang calon penghuni surga. Ia mendapat pelajaran yang patut dicontoh dirinya maupun Muslimin secara umum.