“Karyawan itu mengklaim bahwa ia tak mendengar namanya dengan jelas. Lebih lanjut dikatakan oleh supervisor kedai tersebut, bahwa ini adalah murni sebuah kesalahan. Ia mengatakan bahwa memang seringkali karyawan salah dalam menuliskan nama pelanggan. Hal ini diakuinya bukanlah kali pertama di mana pelanggan merasa dijadikan lelucon atau dilecehkan oleh karyawan ketika mereka melihat pesanan yang mereka terima,” sebut Dewan Hubungan Islam Amerika di Minnesota dalam sebuah siaran pers.
Dewan Hubungan Islam Amerika di Minnesota itu tetap menuntut adanya aksi pemecatan terhadap karyawan yang bersangkutan. Pihak kedai memilih bungkam atas kasus ini.
Lebih lanjut, pelanggan wanita, yang belum diidentifikasi oleh Dewan Hubungan Islam Amerika di Minnesota bakal dihadirkan dalam konferensi pers bersamaan dengan organisasi tersebut pada Senin pekan depan.
(Rizka Diputra)