SEJAK 2010 lalu hingga saat ini, gema malam takbir menyambut Hari Raya Idul Fitri terasa lebih menggetarkan hati. "Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd".
Kalimat takbir benar-benar membuat penulis mengingat kembali bagaimana perjuangan Almarhum Amran Hilba Siregar, ayahanda kami saat bertugas Operasi Militer Seroja, Timor-Timor saat masih bergabung dengan NKRI.
Pada tahun kisaran 1980 -1981 ayanda yang seorang anggota TNI AD mendapat perintah untuk menjalankan tugas di Timor-Timor, kini menjadi Timor Leste setelah lepas dari NKRI. Pada saat itu, penulis masih berusia 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD. Bersama penulis kala itu ada 3 adik yang tinggal bersama ibu di sebuah Kompleks Militer di kawasan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Pada malam takbir tahun 1980 seperti saat ini, dimana semua umat Islam menyeru takbir, bersuka cita, bercengkrama dengan keluarga atau bertegur sapa dengan tetangga dan sesama jamaah masjid, namun tidak bagi ayahanda.
Di malam takbir itu seharusnya dia ada di tengah-tengah keluarga sambil menikmati hidangan yang disiapkan. Di malam itu justru dia bertaruh nyawa dan berusaha agar selamat.
Ya di malam takbir itu ayahnda bersama beberapa unit pasukan Brimob dikepung habis-habisan oleh pasukan pemberontak Fretilin. Pasukan inilah yang selalu membuat kekacauan di Timor-Timur kala itu.
Ayahanda dikepung dari segala penjuru mulai malam takbir hingga pagi menjelang disaat umat Islam bersiap menuju masjid, menuju tanah lapang bersama keluarga untuk menegakkan Sholat Idul Fitri.
Ayahanda bukanlah anggota TNI AD yang berada dalam kesatuan pasukan batalyon yang dikirim ke sana. Dia adalah anggota TNI AD yang dipercaya negara menjadi anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS), sebelumnya bernama Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat).