JAKARTA - Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Qilabah adalah salah satu sahabat yang terkenal akan kesabarannya. Beliau memiliki nama lengkap Abdullah bin Zaid al-Jarmi, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai ahli ibadah dan sangat taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia menjadi sahabat nabi yang terakhir wafat di antara yang lainnya.
Ustaz Khalid Basalamah mengisahkan detik-detik meninggalnya Abu Qilabah berawal dari datangnya seorang musafir yang menemukan sebuah tenda kumuh dan bertujuan untuk meminta perbekalan tambahan untuk melanjutkan perjalanannya.
“Suatu waktu ada satu orang lagi jalan, musafir dari satu kota ke kota lain. Menaiki kuda, sampai ia kehabisan bekal, lalu ia lihat sebuah kemah di padang pasir yang luas. Di tenda ini ia lihat pemandangan yang sangat memilukan. Kemah itu kosong, tidak ada makanan dan minuman, dan ia melihat ada satu orang terbaring dengan punggungnya, kedua tangan dan kakinya putus, lalu kedua matanya buta,” kata Ustadz Khalid dalam sebuah ceramah dikutip dari channel YouTubenya.
Baca Juga: Gara-gara Ghibah, di Akhirat Semua Amal Kebaikan Tak Tersisa untuk Orang Dicintai
Pria lumpuh dan buta tadi hanya tergeletak tak berdaya. Sang musafir masuk ke dalam bangunan kecil itu dan mengucapkan salam, dan mendengar pria lumpuh tadi menjawab salamnya tersebut. Karena heran, lalu sang musafir menanyakan siapakah pria itu dan alasan mengapa ia berada di padang pasir yang panas itu.
Tak ingin menyebutkan namanya, pria lumpuh tersebut hanya menyebutkan bahwa dirinya adalah salah seorang hamba Allah. Sang musafir tadi kemudian balik menceritakan tentang dirinya, dan mengatakan bahwa dirinya hendak meminta makanan dan minuman karena perbekalannya yang sudah habis.
Secara mengejutkan, pria lumpuh itu menyebutkan rasa syukurnya dengan mengatakan Alhamdulillah dan memuji Allah Ta'ala atas nikmat yang disempurnakan untuknya. Hal tersebut membuat sang musafir keheranan, lantaran ia tak sedikitpun melihat bahwa pria lumpuh itu memiliki hal yang dapat disebut sebagai nikmat yang harus disyukuri.
Si pria lumpuh itu memerintahkan sang musafir untuk tutup mulut, dan menjelaskan bahwasanya ia bersyukur karena ia masih diberikan kemampuan untuk mengucapkan kalimat untuk memuji-Nya, yang dinilai sebagai nikmat yang tiada tara.
Baca Juga: Kisah Bangkai Kambing dan Peringatan Menjaga Lisan
Sang musafir pun merasa kagum dengan pria lumpuh itu. Ia pun berniat untuk menawarkan bantuan kepadanya, dan mendengar bahwa sang pria lumpuh memintanya untuk mencari anak laki-lakinya yang biasa menemaninya setiap hari di tenda kumuh tersebut. Ia mengatakan, bahwa dirinya tak pernah lagi mendengar kedatangan anaknya sejak 3 hari lalu.
Pria lumpuh itu menambahkan, bahwa hanya ia dan anak laki-lakinya yang tinggal di padang pasir luas itu, oleh karenanya ia yakin bahwa jika sang musafir menemukan seorang pria yang tak jauh dari tenda tersebut, sudah dipastikan bahwa itulah anak lelaki yang dimaksud.
“Tidak jauh dari kemah itu, ada jenazah manusia yang sedang dikerumuni oleh singa. Barulah sang pendatang bilang, pasti ini anaknya, tetapi sudah mati. Ia melihat jenazah itu sedang dicabik-cabik dagingnya oleh singa. Lalu sang pendatang kembali, dan bingung, bagaimana harus menjelaskan kepada orang ini (pria lumpuh). Dia sendiri susah, hidup di padang pasir sendirian, lumpuh dan anaknya di makan singa,” jelas Ustadz Khalid.
Lalu ia datang kembali ke hadapan pria lumpuh tadi, dan menanyakan kepadanya tentang kisah Nabi Ayyub alaihissalam. Pria lumpuh tadi menjelaskan bahwa Nabi Ayyub adalah manusia tersabar, dengan berbagai cobaan yang begitu dahsyat, yakni dilanda penyakit menular, kematian seluruh anaknya, ditinggal oleh kaumnya hingga jatuh miskin karena kehilangan hartanya.
Sang musafir mengiyakan cerita tentang Nabi Ayyub dan berharap bahwa pria tak berdaya itu dapat menjadi bagian kecil dari Nabi Ayyub, sebab ia baru saja mengetahui bahwa anak semata wayangnya itu telah tewas diterkam oleh singa.
Sang musafir berpikir bahwa pria lumpuh tadi akan menangis saat mengetahui berita kematian anaknya itu. Sebaliknya justru senyum merekah di bibirnya, dan mengucap rasa syukur dengan Alhamdulillah, menyerukan kebahagiannya bahwa anaknya yang sangat berbakti kepadanya itu telah mendahului dirinya ke surga.