Aku berkata kepadaku: “Aku justru sangat tahu bahwa sebenarnya tak ada masalah dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Islam, Khilafah, Pluralitas, Toleransi dan semuanya. Itu semua hanya diperalat untuk proses adu-domba demi mencapai kepentingan suatu golongan. Sejarah Bangsa Indonesia dikacau dan dirusak oleh suatu golongan”
Aku yang di antara khalayak menyodok: “Tapi beberapa kali Sampeyan menulis sangat serius hal-hal yang menyangkut Pancasila, sehingga kami mendapat kesan bahwa Sampeyan terseret oleh rekayasa isyu yang menyebarkan anggapan bahwa ada masalah dengan Pancasila. Padahal sudah 72 tahun Pancasila hidup baik-baik saja”
“Seolah-olah ada ancaman serius terhadap Pancasila kesepakatan kebangsaan dan kenegaraan kita”, aku yang di depanku menambahkan, “sehingga di sana sini diselenggarakan peneguhan kembali tekad terhadap lestarinya Pancasila. Dan yang dianggap ancaman itu adalah Islam”
Aku yang di depan menambahi, “Bahkan Sampeyan sedang menyiapkan seri-seri panjang tulisan tentang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, hubungannya dengan Agama, Islam, Khilafah, Jawa….”
Aku mempertahankan diri: “Lho aku kenal Pancasila sejak mulai mengenal huruf di masa kanak- kanak. Dan secara alamiah aku terus bersabar menjalani proses untuk mematangkan Pancasila kehidupanku. Karena Pancasila adalah Surat Nikah Kebangsaan yang aku berada dan terikat di dalamnya, meskipun hanya sebagai rakyat kecil”
Tetapi aku-aku itu terus membombardir: “Tulisan-tulisan Sampeyan sengaja atau tak sengaja membuat yang membacanya merasa di bawah sadarnya bahwa bangsa kita sedang mempertengkarkan Pancasila. Bangsa Indonesia dan Ummat Islam tiba-tiba bergerak menuju anggapan dan kepercayaan bahwa Pancasila alamatnya di sini, sementara Islam alamatnya di sana. Bahwa Kaum Muslimin adalah ancaman bagi Bhinneka Tunggal Ika….”