Hukum, Waktu, dan Cara Membaca Ta'awudz, Muslimin Wajib Tahu

Tim Okezone, Jurnalis
Rabu 23 Februari 2022 14:14 WIB
Ilustrasi hukum, waktu, dan cara membaca ta'awudz. (Foto: Shutterstock)
Share :

Kapan Isti’adzah Dibaca?

Jika melihat ayat 98 Surat An-Nahl, maka membaca isti’adzah dilakukan setelah membaca Alquran, sebab menggunakan bentuk masa lampau (madhi). Namun demikian, menurut jumhur ulama bahwa membaca isti’adzah dilakukan sebelum membaca Alquran. Hal ini dianalogikan dengan ayat 6 Surat Al Maidah tentang wudhu’, meskipun dalam ayat di atas berbentuk masa lampau (madhi), kandungan artinya bermakna akan datang (mustaqbal), sebagaimana dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

"Jika engkau hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu."

Meski demikian, ada yang berpendapat bahwa membaca isti'adzah dilakukan setelah membaca Alquran, karena melihat pada dhahir teks ayat. Untuk mengetengahkan pendapat yang saling berseberangan di atas, ada yang berpendapat, sebaiknya isti’adzah dibaca sebelum dan sesudah membaca Alquran, karena untuk momohon penjagaan dari hal-hal yang buruk sebelum membaca dan menghilangkan rasa ujub ketika selesai membaca. Oleh karena itu, membaca isti’adzah dilakukan sebelum membaca Alquran, karena sesuai petunjuk Nabi ketika menerima dari Jibril dan kemudian diajarkan kepada Ibnu Mas’ud.

Baca juga: Doa saat Harapan Terwujud: Arab, Latin, Arti, hingga Keutamaannya 

Mengeraskan atau Merendahkan Suara?

Sebagaimana dijelaskan bahwa seluruh ulama sepakat bahwa isti’adzah bukan bagian dari ayat Alquran. Berangkat dari pernyataan itu, apakah boleh mengeraskan suara saat membaca isti’adzah, sementara ia bukan bagian dari ayat Alquran?

Para ulama berbeda pendapat tentang cara membaca isti’adzah. Sebagian ulama ada yang memilih untuk mengeraskan bacaan isti’dzah dan ada pula yang memilih untuk merendahkannya. Adapun sebagian besar ulama qira’at memilih untuk mengeraskan suara ketika membaca isti’adzah, kecuali Imam Nafi’ dan Imam Hamzah yang memilih untuk merendahkan suara ketika membacanya.

Dari perbedaan di atas, Imam Khalaf al-Husainiy menjelaskan bahwa mengeraskan atau merendahkan suara saat membaca isti’adzah dapat dilakukan sesuai dengan kondisi tententu. Berikut penjelasannya. Seorang qari’ dianjurkan mengeraskan suara apabila:

- Membaca di hadapan orang yang menyimak bacaannya agar penyimak dapat memerhatikan secara saksama dan mengikuti bacaannya sejak awal

- Hendak memulai memperdengarkan bacaan kepada seorang guru, supaya seorang guru dapat memerhatikannya dan membenarkan jika terdapat kesalahan

- Tidak bermaksud untuk membaca Alquran dengan merendahkan suara

- Tidak dalam keadaan sholat, karena membaca bacaan dalam sholat dianjurkan untuk merendahkan suara.

Baca juga: Tidur dalam Keadaan Telanjang, Ini Hukumnya Menurut Syariat Islam 

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, Imam Khalaf al Hasaniy bersenandung lewat bait syair:

إذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ ** وَبالْجَهْرِ عِنْدَ الْكُلِّ فِى الْكُلِّ مُسْجَلاً بشَرْطِ اسْــتِمَاعٍ وَابْتِدَاءِ دِرَاسَةٍ ** وَلاَ مُـخْفِيًا أَوْ فىِ الصَّلاَةِ فَفَصَّـــلاَ

Sementara merendahkan suara dianjurkan apabila:

- Seorang qori’ bermaksud membaca dengan suara rendah, baik dalam suatu majlis atau sendirian

- Tidak dalam keramaian, baik hendak membaca dengan suara rendah atau tinggi

- Jika berada dalam sholat, baik sholat jahriyah maupun sirriyah

- Membaca ketika berada di tengah-tengah jamaah yang belajar Alquran. Misalnya, membaca bergiliran dalam maqra’ah (majelis penghafal Alquran).

Wallahu a'lam bishawab.

(Hantoro)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya