"Di Saudi, suhunya ekstrem panas 45 derajat celcius. Saya ukur pakai jam tangan saya, pas saya coba di Armuzna suhunya 56 derajat celcius, itu saya pakai jam bisa saja belum tentu benar," katanya.
Meski demikian, iklim di Arab Saudi berbeda jauh dengan di Indonesia. Selain panas, juga ada faktor kelembaban udara. Di Jakarta kelembaban udara sekira 91%, sementara di Arab Saudi 4%.
"Kemudian tadi iklim terkait dengan suhu dan juga kelembaban, hanya 4% kering sekali, sebagian teman-teman yang di sana ada yang luka tuh makanya pakai cream lah dan tidak terasa tidak berkeringat, minumlah banyak-banyak. Tidak hanya panas tapi kering, sampaikan ke jamaah," katanya.
Untuk itu, Kementerian Kesehatan mempunyai hastag jangan tunggu haus. Selalu ingatkan jamaah paling lama 2 jam sekali minum, jika terjadi dehidrasi penyakit lainnya akan timbul termasuk heat stroke karena di Arab Saudi kelembaban rendah dengan suhu tinggi.
"Jadi ada hastag lagi, jangan takut beser," tukasnya.
(Angkasa Yudhistira)