Saqifah Bani Saidah kerap kali disebut dalam buku-buku sejarah Islam, terutama ketika menceritakan peristiwa pemilihan pemimpin usai wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam pada tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan tahun 632 Masehi.
Pakar sejarah Islam Nasrullah Jasam mengungkapkan bahwa pada peristiwa pemilihan khilafah Islamiyah sejatinya sahabat Ansor saat itu sudah mempunyai dan sudah siap akan membaiat kandidat yang mereka usung yaitu Saat bin Ubadah.
Baca juga: Bacaan Dzikir Pagi Hari Ini: Dapat Ampunan Dosa dan Membuka Pintu Rezeki
Namun akhirnya setelah terjadi berbagai diskusi, pertimbangan serta suara mayoritas forum yang hadir, terutama usulan dari sahabat Muhajirin yang di antaranya sahabat Umar, mengusulkan Abu Bakar.
"Kaum Anshor rela menyerahkan posisi khalifah kepada Sayidana Abu Bakar Shiddiq atas usulan Sayidina Umar," ungkap Nasrullah Jasam kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Saqifah Bani Saidah, Sabtu 6 Agustus 2022, dikutip dari Kemenag.go.id.
Ia menceritakan, ketika itu sempat terjadi perdebatan. Bahkan, kaum Ansor sempat berujar "Minna amirun wa minkum amirun" yang artinya, 'Dari kelompok kita memilih pemimpin sendiri dan dari kelompok lain memilih ketuanya sendiri juga'.
"Kita memilih pemimpin masing-masing," jelas lulusan Al Azhar Kairo ini.
Baca juga: 34 Hukum Tajwid Surat An-Nur Ayat 2 Lengkap Bacaan, Arti, Tafsirnya soal Hukuman Zina
Dia melanjutkan, Umar kemudian menjawab dalam forum yang mulai menghangat tersebut dengan ucapan, "Minna amirun wa minkum wuzara", yang artinya 'Pemimpin dari kami sedangkan kalian adalah para menteri'.
Dikatakan Nasrullah, akhirnya Umar berhasil meyakinkan kaum Ansor sehingga mereka membaiat Abu Bakar. Padahal sebetulnya Abu Bakar cenderung memilih satu di antara dua orang, yaitu Abu Ubaidillah bin al Jarrah dan Umar bin Khattab, untuk menjadi khalifah.