Telaah Filsafat Idul Fitri Menurut Ayatullah Makarim Shirazi

, Jurnalis
Sabtu 22 April 2023 17:14 WIB
Idul Fitri. (Foto: Shutterstock)
Share :

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)” Qs. Al-A’la:87 [14]

Allah swt. telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan untuk mencapai kesempurnaan agung dan mulai di hadapan-Nya. Hal ini dapat dibuktikan melalui firman-Nya yang berbunyi: “…. dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Qs. Al-Isra: [17]: 70)

Dalam argumentasi penciptaan (Burhan-e fitrah) juga dijelaskan tujuan utama penciptaan manusia ialah menyempurnakan dirinya di realitas, sebagaimana ia diciptakan dalam keadaan sempurna dan hendaknya kembali dalam keadaan sempurna. Namun untuk kembali dalam keadaan suci, manusia membutuhkan berbagai usaha dalam kehidupannya, sebagaimana diterangkan dalam potongan Qs. Al-Isra ayat 84 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing…”. Dalam potongan Qs. Al-Isra ayat 84, para filsuf Muslim, seperti Syekh.

Israq dan Mulla Sadra memandang manusia dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang agung dan transendental melalui berbagai usaha penyucian diri. Artinya, kesempurnaan diberikan kepada mereka yang berusaha untuk mencapai kesempurnaan dirinya, bukan orang lain.

Berangkat dari wacana kesempurnaan di atas, Ayatullah Makarim Shirazi, salah satu filsuf dan Mufassir Persia abad 21, menyebutkan Allah swt. telah memerintahkan seluruh orang beriman dalam Qs. Al-Baqarah ayat 183 untuk berpuasa selama sebulan penuh untuk meningkatkan ketakwaannya di hadapan Allah swt.

Ayatullah Makarim Shirazi menilai bahwa puasa di bulan Ramadan merupakan motivasi awal kepada setiap orang beriman untuk menyempurnakan dirinya yang ditandai dengan praktik atau usaha membersihkan dirinya, seperti ibadah di 3 malam lailatul Qadar, berpuasa selama sebulan penuh, syahadah Sayyidina Ali, dan nuzul Alquran.

Berbagai peristiwa yang terjadi dalam bulan suci Ramadan dapat membantu seluruh orang beriman untuk mencapai kesempurnaan agung sebagai ciptaan terbaik di muka bumi, sebagai Qs. At-Tin yang mengucapkan 3 kali kata sumpah pada 3 ayat pertama surah At-Tin untuk mendeskripsikan kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia di hadapan Allah swt.

Aktualitas dari berbagai proses ibadah pembersihan diri selama sebulan penuh, ialah Idul Fitri. Makarim Shirazi memaknai kata id berarti kembali (boz gast). Sedangkan kata fitri, ialah permulaan dan penciptaan.

Berdasarkan dua pemaknaan ini, Makarim Shirazi menyimpulkan bahwa kembalinya manusia pada permulaan penciptaan dirinya yang bersifat suci dan sempurna. Adapun dalam analisa filosofis, Makarim Shirazi memandang makna dari idul fitri ialah proses kembalinya insan sebagai ciptaan yang sempurna di muka bumi sebagai makhluk ilahi.

Manusia secara eksistensi terbagi dua dimensi, yaitu fisik dan jiwa. Makarim Shirazi menyebutkan bahwa proses kembalinya kesucian dan pembersihan eksistensi manusia terjadi pada jiwa, bukan pada fisik manusia. Kesempurnaan jiwa akan mempengaruhi pengetahuan manusia untuk melakukan berbagai tindak dan perilaku kebaikkan, seperti jujur, mengendalikan nafsu, dan menambah ketakwaan.

Berbagai impak pengetahuan dan perilaku akan mempengaruhi kehidupan manusia untuk bertindak berdasarkan pada akhlak yang mulia tanpa dipengaruhi atau dikendalikan oleh hawa nafsunya. Akibatnya, manusia dapat meningkatkan eksistensinya sebagai ciptaan ilahi yang terus mengalami pergerakan kesempurnaan jiwa di realitas.

Lebih lanjut, Ayatullah Makarim Shirazi menambahkan bahwa manusia yang telah mengaktualkan berbagai ibadah pembersihan dan penyucian diri di Idul Fitri diharapkan untuk terus menjaga kesempurnaan dirinya pasca perayaan Idul Fitri, sebagaimana telah dijelaskan bahwa konsep Idul Fitri dalam pandangan Makarim Shirazi sebagai motivasi awal bagi setiap manusia untuk menyempurnakan dirinya di realitas secara keberlanjutan.

Kesempurnaan secara keberlanjutan selaras dengan fitrah manusia yang mengharapkan kesempurnaan abadi. Dengan demikian, dapat dipahami bersama bahwa falsafah Idul Fitri Makarim Shirazi ialah motivasi awal manusia untuk menyempurnakan dirinya secara berkelanjutan.

Makarim Shirazi mempertegas konsep Idul Fitri melalui hadis Sayyidah Ali yang berbunyi; “هر روزی که گناهی در آن صورت نگیرد، عید است. عید روزی است که انسان به فطرت و اصل خداشناسی خود برگردد” yang artinya, “Setiap hari adalah Id bagi mereka yang tidak melakukan dosa.

Hari Id adalah kembalinya manusia pada fitrah dan asalnya di hadapan Tuhan.” Dari hadis Sayyidina Ali, Makarim Shirazi menyebutkan bahwa Idul Fitri terjadi setiap hari bagi mereka yang tidak melakukan dosa di muka bumi sebagai ruang kesucian dirinya untuk kembali pada fitrah sebagai makhluk terbaik di atas makhluk lainnya.

Di satu sisi, Makarim Shirazi memandang bahwa Idul Fitri dalam hadis Sayyidina Ali mengaktualkan tujuan penciptaan manusia, ialah menyembah dan bertakwa di hadapan Allah swt. “Setiap hari adalah Id bagi mereka yang tidak melakukan dosa”, sebagaimana termaktub dalam Qs. Az-Dzariyat [51]: 56 yang berbunyi; “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyebah-Ku”.

Nurul Khair

Pascasarjana Ahlul Bait Internasional University of Teheran

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya