PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan hampir 29 persen masyarakat dunia menyatakan agnostik dan atheis. Ini menegaskan bahwa masyarakat dunia mulai makin tidak religius.
"Di sisi yang lain di bidang keagamaan, masyarakat mulai makin tidak religius. Survei dari IPSOS Global Religion tahun 2023 terhadap 19.731 orang dari 26 negara di dunia menunjukkan 29 persen menyatakan bahwa mereka agnostik dan atheis," kata Presiden Jokowi ketika berbicara di acara Pembukaan ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference di Jakarta, Senin 7 Agustus 2023.
Lantas, bagaimana bahayanya sikap agnostik dan atheis itu menurut pandangan agama Islam?
Dikutip dari Muslim.or.id, Ustadz dr Raehanul Bahraen M.Sc Sp.PK menjelaskan bahwa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui. Sementara atheis adalah orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Sebenarnya agnostik wajah baru dari atheis, karena keyakinan atheis itu berasal dari keragu-raguan akan adanya Yang Maha Pencipta dan tidak diketahui tanda-tanda keberadaan Tuhan.
Lalu atheis mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada. Sedangkan agnostik memberi kesimpulan tidak tegas, tapi mengarah ke arah pemikiran atheis.
"Walaupun ada sedikit perbedaan antara agnostik dan atheis, tujuan utama arah pemikiran mereka sama yaitu (1) Keberadaan Tuhan itu tidak dapat diketahui, (2) Ragu-ragu akan keberadaan Tuhan," kata Ustadz dr Raehanul Bahraen.
Agnostik dan Atheis Termasuk Kekufuran
Ia menerangkan, ragu-ragu dan tidak percaya sama saja, sebab yang namanya iman itu harus yakin dan mantap. Salah satu pembatal keislaman seseorang adalah ragu-ragu dalam pokok dasar agama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman menantang orang yang ragu tentang Alquran:
ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
"Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir." (QS Al Baqarah: 23–24)
Bahkan, ragu akan kekufuran mereka yang kufur adalah bentuk kekufuran. Dalam salah satu pembatal keislaman dijelaskan:
الثالث : من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم : كفَرَ إجْماعاً
"Barang siapa yang tidak mengafirkan orang musyrik atau ragu-ragu bahwa mereka kafir atau membenarkan mazhab (ajaran) mereka maka ini adalah kekufuran secara ijmak." (Nawaqidul Islam, poin ke-3)
Agnostik dan Atheis Bentuk Malas Menjalankan Syariat
Ustadz dr Raehanul Bahraen mengungkapkan, orang agnostik dan atheis sebenarnya bisa jadi tidak mau terbebani alias malas menjalankan syariat agama, ingin bebas saja.
"Padahal kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan syariatnya," jelasnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS Adz Dzariyat: 56)
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)