JAKARTA - Kisah pertemuan Khadijah dan Nabi Muhammad SAW menarik diketahui. Pertemuan keduanya berawal dari sifat Nabi Muhammad SAW yang amanah.
Diketahui, Khadijah binti Khuwaylid berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Ia merupakan pedagang sukses pada masa itu. Ia memiliki naluri wirausaha yang tajam. Di antara laki-laki yang mendominasi pasar Makkah, ia berdiri sebagai pedagang perempuan paling disegani.
Melansir laman Muhammadiyah, Jumat (10/10/2025), perekonomian Mekkah abad ke-6 berputar di sekitar kafilah-kafilah yang melintasi padang pasir. Barang-barang dari Yaman, India, dan Afrika Timur dibawa menuju Syam, lalu kembali membawa hasil bumi dari utara. Perjalanan itu panjang, melelahkan, dan penuh risiko. Unta-unta berjalan berminggu-minggu di bawah terik matahari, sementara ancaman perampok selalu mengintai di setiap lembah.
Dalam menjalankan bisnisnya, Khadijah kerap kali harus mempercayakan kafilah dagangnya kepada laki-laki yang bukan bagian dari keluarganya. Itulah satu-satunya cara untuk memastikan barang-barangnya sampai ke Syam atau Yaman, karena perempuan tidak mungkin memimpin kafilah sendiri di tengah gurun yang keras dan berbahaya.
Tak jarang, para pengelola kafilah yang ditugasi Khadijah berangkat membawa modal besar lalu pulang dengan laporan palsu. Ada yang menyembunyikan sebagian keuntungan, menipu dalam penjualan, ada pula yang menghilang di tengah jalan. Khadijah tahu betul bahwa sebagian dari kekayaannya seringkali menguap di tangan orang-orang seperti itu.
Di tengah keadaan itu, Khadijah mendengar kabar tentang seorang pemuda yang oleh penduduk Mekkah diberi gelar Al-Amin bernama Muhammad. Saat berusia 20-an tahun, Muhammad belum dikenal sebagai Nabi. Muhammad ketika itu hidup sederhana dan menjaga kehormatannya sebagai seorang gembala yang sesekali berdagang ke Syam.
Suatu hari, saudari Khadijah mempekerjakannya untuk menggembalakan unta. Setelah pekerjaan selesai, Muhammad merasa malu meminta upah secara langsung, lalu mengutus penggembala lain untuk melakukannya. Tindakan kecil itu meninggalkan kesan besar. Saudari Khadijah bercerita bahwa dirinya belum pernah melihat lelaki sejujur dan semalu itu. Cerita itu sampai ke telinga Khadijah, dan sejak itu ia menaruh perhatian.
Rasa ingin tahu itu tumbuh menjadi kepercayaan. Khadijah menawarkan kerja sama dagang. Muhammad menerimanya setelah meminta izin kepada pamannya, Abu Thalib. Kesepakatan dibuat dengan sistem muḍārabah atau bagi hasil. Umumnya, pembagian keuntungan di Mekkah saat itu adalah 30% untuk pengelola, 70% untuk pemilik modal. Namun Khadijah menawarkan pembagian yang lebih adil, setengah untuk Muhammad dan setengah untuknya.
Perjalanan dagang pertama Muhammad bersama rombongan menuju Busra di wilayah Syam menjadi awal dari segalanya. Kota itu berjarak sekitar 1.200 kilometer dari Mekkah, jarak yang biasanya ditempuh dalam waktu hampir dua bulan dengan berjalan kaki dan menunggang unta. Jalur kafilah membentang di antara lembah sempit, padang pasir tandus, dan dataran berbatu yang terbakar matahari.
Setibanya di Busra, Muhammad memimpin transaksi dagang atas nama Khadijah. Di kota perbatasan Bizantium itu, para pedagang Quraisy menukar hasil bumi Arab seperti kulit, rempah, dan bahan wangi-wangian dengan gandum, minyak zaitun, sutra, serta kain-kain mewah dari Romawi Timur. Busra menjadi titik pertemuan antara dunia Arab dan dunia Mediterania, tempat arus barang, budaya, dan gagasan saling bersilang.
Pelayan Khadijah yang bernama Maysara melihat bagaimana Muhammad memperlakukan setiap orang dengan hormat. Tidak ada tipu daya, tidak ada keluh kesah. Ia juga menceritakan sesuatu yang membuat Khadijah tertegun. Di tiap-tiap perjalanan seolah ada awan yang menaungi perjalanan Muhammad. Bagi Khadijah, ini adalah sinyal keberkahan di dalam diri lelaki itu.
Selain itu, keuntungan yang dibawa Muhammad kali itu berlipat ganda, bahkan dua hingga tiga kali lipat dari perjalanan sebelumnya. Khadijah tahu, ini bukan semata karena kecerdikan berdagang, tetapi karena kejujuran melahirkan berkah. Dari kekaguman tumbuh rasa hormat, dan dari rasa hormat perlahan tumbuh sesuatu yang lebih intim. Khadijah mulai menyukai Muhammad.
Dari kisah ini, ada pelajaran yang dapat diambil. Kejujuran, tanggung jawab, dan amanah adalah modal utama yang tidak lekang oleh zaman.
Wallahualam
(Erha Aprili Ramadhoni)