Flexing Ibadah di Medsos, Hati-Hati Sum'ah

Erha Aprili Ramadhoni, Jurnalis
Kamis 06 November 2025 16:00 WIB
Flexing Ibadah di Medsos, Hati-Hati Sum'ah (Ilustrasi/Freepik)
Share :

JAKARTA - Kekinian masyarakat semakin tak dapat dipisahkan dengan media sosial. Banyak momen diunggah ke media sosial, termasuk saat beribadah. 

Postingan ibadah ke media sosial dapat menjadi inspirasi. Namun, mungkin tanpa disadari, ini bisa menjadi ajang flexing dengan memamerkan kebaikan. 

Hal ini bisa menimbulkan penyakit hati sum'ah, yang mirip dengan riya dan ujub. 

Melansir laman NU, Kamis (6/11/2025), secara bahasa, kata sum’ah berasal dari sami’a yang berarti “mendengar”. Dalam Umdatul Qari, dijelaskan:   

وَمعنى: السُّمْعَة، التَّنْوِيهُ بِالْعَمَلِ وَتَشْهِيرُهُ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَيَسْمَعُوا بِهِ 

Artinya: “Sum’ah adalah menyebutkan atau menceritakan amal perbuatan dan mempublikasikannya supaya dilihat dan didengar oleh manusia,” (Badruddin al-‘Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari, [Beirut: Dar Ihyaut Turats al-Arabi, t.th.], juz XXIII, hal. 86) 

Abu Thalib al-Makky menjelaskan lebih jauh dalam Qutul Qulub sum’ah muncul dari dorongan hawa nafsu dan lemahnya jiwa:

كان العبد يسمع بعمله غير الله عزّ وجلّ ويحب أن يسمع به مخلوقاً ليمدحه به لغلبة هواه وضعف نفسه فيكون قد أشرك في عمله غير الله عزّ وجلّ 

Artinya: “Seorang hamba memperdengarkan amal perbuatannya kepada selain Allah. Ketika ia menceritakannya kepada makhluk, tujuannya agar dipuji. Karena dominasi hawa nafsu dan lemahnya jiwa, ia pun telah menyekutukan Allah dalam perbuatannya,” (Qutul Qulub, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005], juz I, hlm. 113). 

Perbuatan memperdengarkan amal kebaikan demi validasi adalah tanda hilangnya keikhlasan. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim: 

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللهُ بِهِ 

Artinya: “Barang siapa memperdengarkan amalnya (agar dipuji), maka Allah akan memperdengarkan (aib) amalnya. Dan barang siapa berbuat riya’, maka Allah akan menampakkan (niat buruk) amalnya,” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Riya’ dan sum’ah memang mirip yakni keduanya lahir dari dorongan untuk dipuji manusia. Bedanya, riya’ terkait penglihatan (ingin dilihat), sementara sum’ah terkait pendengaran (ingin didengar). Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan: 

الرياء مشتق من الرؤية... والسمعة مشتقة من السمع... والمراد بها نحو ما في الرياء لكنها تتعلق بحاسة السمع والرياء بحاسة البصر 

Artinya: “Riya’ berasal dari kata ru’yah (melihat), yakni menampilkan ibadah agar dilihat orang lain. Sementara sum’ah berasal dari sami’a (mendengar), memiliki makna serupa dengan riya’, hanya saja terkait pendengaran,” (Ahmad bin Hajar al-Haitami, Fathul Bari, [Beirut: Darul Ma‘rifat, 1379 H], juz XI, hal. 336) 

 

Dalam konteks saat ini, riya’ dan sum’ah sering muncul dalam bentuk soft flexing. Misalnya memamerkan momen ibadah umrah, sedekah, atau aktivitas sosial di media sosial tanpa memperhatikan niat. Alih-alih niat memotivasi, tapi dalam hati terselip rasa bangga karena banyak yang memuji. Di sinilah batas tipis antara syiar dan sum’ah. 

Namun, tidak semua bentuk penceritaan kebaikan termasuk sum’ah. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

 وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ 

Artinya: “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka nyatakanlah (sebagai bentuk syukur),” (QS. Ad-Dhuha [93]: 11) 

Menampakkan nikmat Allah, termasuk melalui amal baik, dapat menjadi bentuk syukur jika diniatkan untuk kebaikan. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menegaskan: 

وفي الحديث استحباب إخفاء العمل الصالح لكن قد يستحب إظهاره ممن يقتدى به 

Artinya: “Dalam hadits, disunnahkan menyembunyikan amal saleh. Namun, terkadang disunnahkan pula menampakkannya bila ada yang berpotensi meniru amal tersebut atas dasar niat yang benar,” (Fathul Bari, [Beirut: Darul Ma‘rifat, 1379 H], juz XI, hlm. 337).   

Artinya, niat menjadi kunci utama. Flexing ibadah bisa bernilai pahala bila diniatkan untuk memberi teladan atau menginspirasi. Namun bisa juga menjadi dosa bila dilakukan semata-mata demi validasi dan pujian. Tidak ada orang lain yang benar-benar tahu niat seseorang selain dirinya sendiri. 

Flexing ibadah tidak selalu buruk. Jika diniatkan untuk menebar inspirasi dan mengajak orang lain pada kebaikan, itu bagian dari dakwah. Tetapi jika tujuannya hanya untuk dipuji, itulah sum’ah yang harus dihindari. Kuncinya sederhana, yaitu tanyakan pada hati, apakah kita ingin Allah yang melihat, atau manusia yang memuji? Wallahualam 

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya