Khutbah Jumat: Peringatan Isra Mi'raj Sebagai Momentum Memperbaiki Shalat bagi Umat Islam

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 16 Januari 2026 10:05 WIB
Ilustrasi.
Share :

Adapun kewajiban Shalat, Allah SWT memanggil langsung Baginda Nabi Muhammad SAW untuk menghadap kepada-Nya, tanpa perantara, guna menerima perintah Shalat lima waktu. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 216 menjelaskan:

وَفِي اخْتِصَاصِ فَرْضِيَّتِهَا بِلَيْلَةِ الإِسْرَاءِ إِشَارَةٌ إِلَى عَظِيمِ شَأْنِهَا، وَلِذَلِكَ اخْتُصَّ فَرْضُهَا بِكَوْنِهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ، بَلْ بِمُرَاجَعَاتٍ تَعَدَّدَتْ

Artinya, "Kewajiban Shalat yang secara khusus ditetapkan pada malam Isra dan Mi‘raj menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan Shalat. Oleh karena itu, kewajibannya ditetapkan tanpa perantara malaikat, bahkan melalui beberapa kali dialog yang berulang."

Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah, Shalat merupakan ibadah yang paling mulia. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika seorang mukmin menunaikan Shalat, pada hakikatnya ia sedang berdiri menghadap Allah SWT, bermunajat dengan kalam-Nya, serta menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, Shalat sering disebut sebagai Mi‘rajnya orang-orang beriman.

Dalam kitab Tafsir Al-Wasith juz 2 halaman 1080, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:

أَمَّا الصَّلَاةُ فَهِيَ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ، وَصِلَةُ الْوَصْلِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِالتَّوَجُّهِ نَحْوَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ فِي أَوْقَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ

Artinya: Adapun Shalat, maka ia adalah mi‘rajnya orang beriman, penghubung antara seorang hamba dengan Allah SWT, serta sarana menikmati kelezatan beribadah dengan menghadapkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

 

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Muslim lainnya