JAKARTA - Setelah menunaikan puncak ibadah wukuf di Arafah, jemaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam (mabit) sekaligus mengambil kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina. Terkait pelaksanaannya, sebagian ulama memperbolehkan jemaah mabit sebentar saja melalui skema murur, yaitu sekadar melintasi kawasan tersebut. Muzdalifah sendiri merupakan bagian dari Masy‘aril Haram, yakni pelataran suci yang sangat dimuliakan. Allah SWT berfirman:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia, secara etimologi, kata Muzdalifah berasal dari al-izdilaf yang bermakna berkumpul atau tempat pertemuan. Bahkan, sebuah riwayat menyebutkan di sinilah Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, malam tanggal 10 Dzulhijjah di Muzdalifah menjadi momentum emas bagi jemaah untuk memperbanyak zikir, merenung, dan memanjatkan doa kebaikan.
Dahulu pada masa Jahiliyyah, masyarakat Arab juga kerap berdiri dan berdoa di Masy‘aril Haram. Namun, orientasi doa mereka sangat terbatas pada kenikmatan duniawi yang semu, seperti meminta unta, kambing, harta, dan kemewahan hidup. Menanggapi hal tersebut, Allah SWT menurunkan ayat untuk mengoreksi cara pandang materialistis itu agar umat beriman senantiasa mengutamakan keselamatan akhirat di samping kehidupan dunia.
Berdasarkan kitab Ad-Du’a karya Imam Thabrani, peristiwa inilah yang melahirkan anjuran kuat untuk membaca "Doa Sapu Jagad" sewaktu berada di Muzdalifah:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Meskipun redaksinya ringkas, doa agung ini menghimpun seluruh kebaikan. Para mufassir menjelaskan bahwa hasanah fid-dunya (kebaikan dunia) mencakup rezeki yang halal, ilmu bermanfaat, kesehatan, keluarga saleh, dan berkah kehidupan. Sementara hasanah fil-akhirah (kebaikan akhirat) mencakup ampunan dosa, kemudahan dalam hisab, serta ganjaran surga yang abadi.
Selain doa sapu jagad, jemaah juga sangat dianjurkan mengamalkan doa Rasulullah SAW pada Hari Nahr (Idul Adha). Walau dalam riwayat lengkapnya Nabi memanjatkan doa ini di luar Muzdalifah, para ulama menilai momentumnya sangat tepat dibaca saat mabit karena masih berada dalam lingkup Hari Raya Idul Adha:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ فَاكْفِنِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tiada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Maka cukupilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (HR Thabrani)
Doa ini mencerminkan puncak ketundukan total seorang hamba di hadapan Penciptanya. Jika Nabi Muhammad SAW yang sudah ma’shum (terjaga dari dosa) tetap memohon perlindungan agar urusan dirinya tidak diserahkan pada ego sendiri walau sekejap mata, tentu kita sebagai manusia biasa jauh lebih membutuhkan untaian doa agung tersebut demi keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.
(Rahman Asmardika)