Bagi Susanti, keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ia memandang ilmu sebagai bekal berharga yang terus dibutuhkan sepanjang hayat.
“Ilmu itu mahal. Yang tadinya enggak tahu, jadi kita tahu,” ucapnya.
Prinsip tersebut membuat Susanti tak ingin berpuas diri dengan belajar dari satu sumber saja. Ia mendorong siapa pun yang ingin mengenal Islam untuk terus menggali pengetahuan, merujuk pada sumber yang sahih, dan senantiasa menggunakan akal sehat.
“Kalau misalkan ada rekan-rekan yang mungkin berpikir secara logika dan kita menggunakan akal, kita belajar, kita telusuri pelajarannya,” pesannya.
Apalagi menurutnya, kemajuan teknologi masa kini kian mempermudah siapa saja untuk mengakses ilmu pengetahuan, termasuk bagi masyarakat dengan keterbatasan penglihatan.
“Zaman sekarang ini alat sudah canggih, ilmu bisa didapat di mana saja,” lanjutnya.
Bagi Susanti, ilmu keagamaan yang ia timba harus membumi dan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Ia menilai Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual, melainkan juga menuntun etika muamalah, mulai dari tata cara makan, berdagang, hingga utang-piutang.