Jika ada pendekatan yang sederhana namun efektif untuk menggambarkan hubungan antara Ibn Rusyd dengan filsafat, maka hal itu barangkali dicapai dengan cara menelusuri bagaimana nama pribadi filosof itu berkembang dalam dunia peradaban umat manusia. Nama sebenarnya dari failasuf Andalusia itu ialah Ibn Rusyd. Hanya dengan nama itulah failasuf itu dikenal dikalangan orang-orang muslim. Hal ini mungkin dikarenakan kuatnya pengaruh bahasa Arab, termasuk kepada bangsa-bangsa Muslim yang tidak menggunakan huruf Arab untuk bahasa nasional mereka seperti bahasa Indonesia (menggunakan huruf Latin), Bangladesh (huruf Bangali) da Turki (huruf Latin). Sedangkan pada bangsa-bangsa muslim lainnya, yang umumnya menggunakan huruf Arab (meskipu tidak berarti mesti berbahsa Arab), nama Ibn Rusyd tentu saja ditulis dan di eja persis seperti aslinya dalam bahassa Arab.
Tetapi di dunia nonmuslim, khususnya di Barat, filosof ini dikenal dengan nama Averroes. Perubahan dan pergantian nama inilah yang kami katakan cukup ilustratif dalam konteks keterkaitan tokoh ini dengan pertumbuhan dan perkembangan filsafat, termasuk di Barat bahkan di dunia pada umumnya.
Nama “Averroes” adalah sebuah metamorfosi Yahudi-Spanyol-Latin dari nama Ibn Rusyd. Keterangannya adalah sebagai berikut: Penerjemahan karya-karya ilmiah Arab ke bahasa Latin sekira pertengahan abad XII, yang dikerjakan di Spanyol atas anjuran Raymond seorang ahli arsip di Toledo, pada umumnya, di masa masa awal, adalah hasil kerja sama seorang Kristen spanyol yang paham bahasa Arab tetapi tidak tahu bahasa Latin. Si Yahudi, sambil membaca keras setiap kata-kata atau kalimat Arab dari teks yang diterjemahkan itu, menerangkan arti kata-kata kalimat dalam bahasa setempat yang dikenal yaitu bahasa Spanyol yang berfungsi sebagai penengah anatara kedua orang yang sedang melakukan kerja sama itu, kemudian si pendeta Kristen, pada urutannya, menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin.
Metamorfosis Ibn Rusyd atau lebih tepatnya, Ibn Rochd (menurut transliterasi standar latin) menjadi Averroes pada mulanya adalah akibat rentetan perubahan parsial yang menyertai cara kerja dan kegiatan penerjemah itu. Orang-orang Yahudi, ketika membaca kata-kata Arab Ibn (anak dari, dan di sini juga bisa berarti keturunan dari), mengucapkannya seperti kata-kata ibrani (bahasa Yahudi) yang sama artinya, yaitu aben, maka mereka baca nama failasuf kata ini Aben Rochd. Kemudian konsonan b, dari dahulu sampai sekarang, dalam bahasa spanyol selalu berubah menjadi v, sehingga jadilah Aven Recohd dan kemudian melalui asimilasi huruf (Arab: idgham), berubah lagi menjadi Averrochd. Lalu si pendeta Kristen mengganti huruf sy (Arab: Syin) dengan huruf s, karena sy tidak terdapat dalam bahasa Latin, sehingga menjadi Averrosd.
Akhirnya, karena rentetan bunyi s dan d itu terasa sulit dalam bahasa Latin, maka d-nya dihilangkan, dan menjadi Averros. Demikian pula evolusi perubahan nama-nama filosof Islam lainnya yang banyak berpengaruh kepada perkembangan pemikiran Barat: Ibn Sina menjadi Avecina, Ibn Bajjah menjadi Avenpace, Ibn Zuhr menjadi Avenzoar, Ibn Khaldun menjadin Abenjaldun, Ibn Massarah menjadi Abenmacarra dan Ibn Tufail menjadi Abentofail.
Sebagaimana mudah dibaca, perubahan-perubahan nama tersebut melukiskan dalam suatu kapsul batas-batas jauh pengaruh tokoh-tokoh bersangkutan dalam dunia pemikiran, terutama filsafat di Barat pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya, serta siapa-siapa atau kelompok mana saja yang terlibat dalam pengembangan pemikiran itu. Telah disebutkan bahwa orang-orang Yahudi, Kristen, khususnya yang dari spanyol, terlibat dalam usaha penerjemah karya-karya ilmiah Arab ke Latin. Karya-karya terjemahan dalam bahada Latin itu, baik yang dari Spanyol maupun Sisilia dan Italia, kemudian menyebar ke tempat-tempat lain di Eropa, terutama Peranci dan Inggri.
Tetapi sebelum menyebar ke berbagai tempat dan mempengaruhi jalan pikiran bangsa-bangsa dan agama, Ibn Rusyd, sebagaimana hampir semua filosof dan pemikir lainnya dari semua kalangan, harus bergulat dahulu melawan berbagai rintangan yang umumnya datang dari para tokoh agama (rijal al-Din). Terlebih lagi, jika yang terakhir ini berhasil membuat koalisi dengan para penguasa.
Sumber: Ensiklopedi Nurcholish Madjid
(M Budi Santosa)