Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jejak Dakwah Jaka Samudra di Gresik

Agus Ismanto , Jurnalis-Jum'at, 02 Agustus 2013 |15:42 WIB
Jejak Dakwah Jaka Samudra di Gresik
Peninggalan Sunan Giri di Gresik (Dok: Agus Ismanto/Sindo TV)
A
A
A

GRESIK - Jaka Samudra atau dikenal dengan Sunan Giri merupakan orang pertama yang mendirikan pondok pesantren (ponpes) untuk pusat kegiatan penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Ponpes peninggalan Sunan Giri kini dikenal dengan sebutan situs Giri Kedaton yang banyak dikunjungi para sejarawan, budayawan, dan peziarah, untuk menapaktilasi perjuangan sosok penyebar Islam di Jawa itu.

Kompleks pemakaman Sunan Giri berada di kawasan perbukitan kapur di Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Bangunan makam Sunan Giri berupa cungkup berukuran 4x6 meter persegi berhiaskan ukiran kayu jati yang hingga kini masih dipertahankan keasliannya.

Hamim, juru kunci makam, menceritakan, Jaka Samudra atau Sunan Giri lahir di Blambangan, Banyuwangi, pada 1442 M dengan nama kecil Raden Paku atau Muhammad Ainul Yakin.

Ia merupakan putra pasangan Maulana Ishak dan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, penguasa Blambangan saat itu.

Semasa muda, Jaka Samudra berkelana menuntut ilmu hingga ke Malaka dan Pasai. Kemudian ia kembali ke kampung halaman dan membangun pondok pesantren sebagai media untuk menyebarkan Islam.

Pada 1403 Saka, Jaka Samudra mendirikan sebuah pondok pesantren dan pusat kegiatan dakwah Islam. Bangunan ponpes berada di kawasan perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, Gresik, yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton.

Sejak itu, Jaka Samudra bergelar Sunan Giri. Giri dalam Bahasa Jawa artinya gunung dan sunan berarti sesuhunan.

Giri Kedaton akhirnya tumbuh menjadi pusat politik dan pemerintahan saat Raden Fattah melepaskan diri dari Majapahit. Sedangkan Sunan Giri bertindak sebagai penasihat dan Panglima Militer Kesultanan Demak.

Sebagai bagian dari Wali Songo, Sunan Giri dikenal memiliki pengetahuan yang luas, khususnya di bidang fiqh.

Tak heran bila masyarakat menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Beliau juga menciptakan berbagai karya seni, seperti tembang dan permainan anak, di antaranya Jelungan, Ilir-Ilir, dan Cublak-Cublak Suweng.

(Anton Suhartono)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement