Bulan Ramadan adalah bulan Alquran. Hubungan yang erat ini tidak lain karena Alquran diturunkan pada bulan Ramadan. Turunnya Alquran secara keseluruhan (jumlatan) dari baitul izzah ke langit dunia terjadi pada bulan Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadr sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran.” (Al-Baqarah: 185)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. “ (Ad-Dukhan: 3)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (lailatul qadr)” (Al-Qadr: 1)
Demikian pula turunnya secara berangsur-angsur (munajjaman) kepada Rasulullah Saw. diawali dengan surat Al-`Alaq ayat 1-5 pada malam tujuh belas Ramadhan menurut riwayat yang paling kuat.
Rasulullah Saw, para sahabat dan gernerasi salafus shalih setelah mereka menjadikan bulan Ramadan sebagai momen spesial untuk Alquran, khususnya tilawah. Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma`arif menyebutkan bahwa kebiasaan para generasi salaf di bulan Ramadan adalah membaca Alquran dalam salat dan di luar salat.
Mereka menjadikan Ramadan sebagai momen berkumpulnya dua amalan mulia yang akan menjadi syafaat pada hari kiamat. Nabi Saw bersabda: “Puasa dan Alquran akan menjadi penolong bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Duhai Rabb, aku telah menghalanginya dari makan dan memperturutkan syahwat pada siang hari, maka izinkah aku menjadi penolong baginya!’ Alquran juga berkata, ‘Duhai Rabb, aku telah menghalanginya dari tidur (nyenyak) pada malam hari, maka izinkan aku menjadi penolong baginya!’ Maka keduanya pun menjadi penolonga hamba tersebut.” (HR. Ahmad)
Interaksi Rasulullah Saw dengan Alquran
Semua gerak dan sikap keseharian Rasulullah Saw adalah pengejawantahan nilai-nilai Alquran yang agung. Interaksi beliau dengan Alquran juga sangat intens, apalagi ketika memasuki bulan Ramadan. Abdullah bin Abbas menjelaskan: “Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan sosok yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadan ketika Jibril menjumpainya untuk mengajarinya Alquran. Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadan untuk mengajarinya Alquran.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tadarus yang dilakukan oleh Jibril As dan Nabi Saw pada malam-malam Ramadan ini mengisyaratkan sunnahnya memperbanyak membaca Alquran pada waktu-waktu tersebut.
Interaksi para sahabat dan salafus saleh dengan Alquran. Para sahabat berusaha meneladani Rasulullah Saw sebaik mungkin. Mereka senantiasa hidup dalam naungan Alquran. Mereka menikmati aktivitas tilawah, mendengarkan, mentadaburi, dan mengamalkan Alquran. Sahabat Utsman bin Affan menghidupkan seluruh malam-malam Ramadan dengan tilawah Alquran. Beliau membacanya dalam setiap rakaat salat yang ia kerjakan. Sahabat Ubay bin Ka`ab mampu mengkhatamkan Alquran setiap delapan hari.
Imam Az-Zuhri apabila datang bulang Ramadan beliau mengatakan, “Sesungguhnya ini adalah momen untuk membaca Alquran dan memberi makanan.”
Demikian juga dengan Imam Malik apabila telah datang bulan Ramadan beliau meliburkan mejelis haditsnya dan mengkhususkan diri membaca Alquran dari mushaf. Bahkan, Imam Asy-Syafi`i setiap memasuki Ramadan selalu mengkhatamkan Alquran dua kali khatam setiap hari, artinya beliau tidak berpisah dengan bulan Ramadan kecuali sudah mengkhatamkan enam puluh kali.
Bukankah Rasulullah Saw melarang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari?
Abdullah bin `Amr bin `Ash pernah bertanya ke Rasulullah Saw.: “Wahai Rasulullah dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Alquran? Beliau menjawab, ‘Dalam satu bulan.’ Abdullah berkata, ‘Aku masih lebih kuat dari itu.’ Abdullah terus minta dispensasi hingga Nabi Saw mengatakan, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” ‘Abdullah masih menjawab, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Nabi Saw lantas bersabda, “Tidak akan bisa memahaminya orang yang mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Menanggapi hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan dalam Lathaiful Ma`arif, “Larangan mengkhatamkan Alquran kurang dari tiga hari itu jika dilakukan terus menerus. Namun jika dilakukan sesekali saja, apalagi di waktu utama seperti bulan Ramadan, lebih-lebih pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar atau di tempat yang mulia seperti di Makkah bagi yang mendatanginya dan ia bukan penduduk Makkah, maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah untuk memanfaatkan pahala melimpah pada waktu dan zaman. Inilah pendapat dari Imam Ahmad dan Ishaq serta ulama besar lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama sebagaimana telah disebutkan.”
Mana yang lebih utama, membaca dengan tadabbur atau membaca cepat?
Jawaban pertanyaan tersebut kembali kepada kondisi pembacanya. Pembaca Alquran dalam hal ini terbagi dalam dua kelompok:
Kelompok pertama adalah orang awam yang tidak bisa mentadaburi bacaannya atau tidak mampu memahami sebagian besar ayat-ayat yang dibaca. Bagi kelompok awam ini, lebih utama memperbanyak bacaan demi mengejar kebaikan yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dia akan mendapatkan kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatkan sepuluh kali. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim, satu hurf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmizi)
Kelompok kedua adalah para ulama dan penuntut ilmu. Mereka bisa membaca Alquran dengan dua cara sekaligus. Pertama, membaca seperti orang awam, tujuannya adalah untuk memperbanyak pahala. Kedua, membaca dengan mempelajari makna ayat-ayat dan mentaburinya. Kedua cara ini merupakan variasi amal dalam syariat, tinggal disesuaikan waktunya sesuai keadaan pembacanya.
Semoga Allah memberi kita semua taufik dan kekuatan untuk merajut kemesraan dengan Alquran pada Ramadan tahun ini. Wallahu Waliyyut taufiiq.
Oleh:
Muchammad Wachid Romadlon, Lc. MA.
Korps Da'i Inisiatif Zakat Indonesia (IZI)
(M Budi Santosa)