Manuskrip Kuno Peninggalan Pengawal Pangeran Diponegoro

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Senin 29 April 2019 18:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 29 614 2049505 merawat-manuskrip-di-masjid-kuno-pengawal-pangeran-diponegoro-SvGWKNRsTq.jpg

Keberadaan Manuskrip Kuno yang Semakin Menghilang

Masjid kuno dan pesantren adalah salah satu tempat dimana manuskrip seringkali ditemukan. Begitu pula dengan Masjid Kuno At-Taqwa. Menurut pengakuan Kiai Hamid, para leluhurnya meninggalkan warisan berupa ratusan bundel manuskrip yang berisi ragam ajaran-ajaran keislaman. Namun, hingga kini hanya 18 bundel manuskrip saja yang tersisa.

“Manuskrip-manuskrip itu berangsur-angsur hilang karena kondisi bangunan masjid yang mulai rapuh dan bocor. Sebagian diselamatkan, sebagian lagi dibakar karena rusak. Sejak dipugar pada tahun 1997, tersisa 18 manuskrip saja,” ungkap Kiai Hamid.

Sejak dipugar pada tahun 1997, tersisa 18 manuskrip saja,” ungkap Kiai Hamid.

Meskipun menyadari akan pentingnya manuskrip-manuskrip tersebut, Kiai Hamid menambahkan dirinya merasa kesulitan untuk menyelamatkannya. Tidak ada perawatan khusus selain menempatkannya di dalam lemari kayu yang diletakkan di bagian teras masjid. Kini, benda cagar budaya tersebut berada dalam kondisi yang memprihatinkan misalnya banyak bagian-bagian yang sobek, lembab, berlubang, dan rapuh.

Untuk mengantisipasi semakin meluasnya kerusakan-kerusakan itu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Centre forthe Study ofManuscriptCulture (CSMC) UniversityofHamburg berinisiatif untuk melakukan misi penyelamatan terhadap manuskrip-manuskrip tersebut. Melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA), kedua lembaga ini bekerjasama untuk menyelamatkan isi manuskrip-manuskrip itu dengan cara mengalihkannya menjadi media digital.

kedatangan mereka bermula dari informasi yang disampaikan oleh dosen Universitas Negeri Yogyakarta

Data Manager DREAMSEA, Muhammad Nida’ Fadlan mengatakan bahwa kedatangan mereka bermula dari informasi yang disampaikan oleh dosen Universitas Negeri Yogyakarta bernama Ghis Nggar Dwiatmojo. Informasi ini kemudian diteruskan kepada manajemen untuk dilihat sejauh mana tingkat keterdesakan penyelamatan manuskrip-manuskrip tersebut harus dilakukan.

“Program digitalisasi manuskrip DREAMSEA ini sedikit unik dibanding program sejenis lainnya. Kami menerima informasi dari masyarakat, lalu kami respon laporan tersebut dalam waktu yang singkat agar manuskrip-manuskrip tersebut dapat segera kita selamatkan. Tidak perlu membuat proposal,” ungkap Nida.

Misi di Magetan dipimpin oleh M. Adib Misbachul Islam yang merupakan Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), asosiasi profesi yang menghimpun para pemerhati manuskrip Nusantara.

Adib menargetkan timnya akan dapat menghasilkan sekurangnya 4,000 halaman selama satu minggu sejak 23 April 2019.

Selain Adib, turut serta pula Ghis Nggar Dwiatmojo (Universitas Negeri Yogyakarta), Fathurrochman Karyadi (Lingkar Filologi Ciputat) dan Benediktus Satrio Widiananto (Paseban Tri Panca Tunggal). Dari 18 manuskrip tersebut, Adib menargetkan timnya akan dapat menghasilkan sekurangnya 4,000 halaman selama satu minggu sejak 23 April 2019.

“Melalui digitalisasi, DREAMSEA berfokus pada penyelamatan isi manuskripnya. Sedangkan untuk aspek fisik, kami bekerjasama dengan para ahli preservasi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,” ungkap Adib yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam misi kali ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengutus tiga orang ahli penyelamatan fisik manuskrip. Mereka adalah Eko Sutarko (ahli reprografi), Wasiran (ahli penjilidan), dan Hamida Ernawati (ahli konservasi). Manuskrip-manuskrip tersebut, sebelum dilakukan digitalisasi, akan terlebih dahulu dikelompokkan berdasarkan jenis kerusakannya.

Manuskrip-manuskrip akan dilakukan tahap tambal sambung untuk menutup naskah-naskah yang berlubang maupun sobek akibat gigitan serangga maupun andil tangan manusia. Setelah didigitalkan, manuskrip-manuskrip itu akan dimasukkan ke dalam kotak pelindung portepel yang terbuat dari bahan bebas asam sehingga usia manuskrip diupayakan akan menjadi lebih panjang.

“Kita tidak akan pernah bisa menduga bagaimana nasib manuskrip-manuskrip ini 10-20 tahun ke depan. Ini adalah identitas sejarah bangsa kita yang wajib untuk dirawat. Untuk itu, kegiatan digitalisasi dan preservasi semacam ini harus dilakukan secara terus-menerus,” ucap Adib. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya