nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tata Cara Memakai Siwak Saat Puasa Sesuai Tuntunan Nabi SAW

Gurais Alhaddad, Jurnalis · Selasa 14 Mei 2019 14:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 14 616 2055523 tata-cara-memakai-siwak-saat-puasa-sesuai-tuntunan-nabi-saw-B9JGcwobGI.jpg Kayu Siwak (Foto: Hellosehat)

SIWAK sudah sangat populer di kalangan umat Islam sebagai bagian dari sunnah Nabi SAW, meski kini tak banyak yang masih istiqomah melakukannya. Jauh dari peradaban Timur Tengah, di Nusantara sudah ada budaya mengunyah daun sirih, untuk meningkatkan kekuatan gigi sejak ratusan tahun silam.

Faktanya budaya nyirih ternyata tak hanya ada di Indonesia, tapi juga masih lestari di Myanmar. Sama dengan Arab Saudi yang identik dengan siwak, ketika Anda jalan-jalan ke Myanmar, pasti menemukan orang-orang muda makan sirih. Bahkan di pinggiran jalan, banyak penjual sirih, berderet sepanjang jalan.

“Nenek moyang kita telah mengetahui cara untuk memperkuat gigi dengan nyirih, sebelum ditemukannya pasta gigi. Jauh sebelum nenek moyang kita menemukan sirih, Rasulullah SAW telah memerintahkan, supaya gigi kita kuat, mulut kita wangi, adalah memakai siwak,” ujar Budy Budiawan, Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang ditempatkan di Myanmar melalui siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (14/05/2019).

Siwak adalah dahan atau akar dari pohon Salvadora persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Jika saja bersiwak ini tidak memberatkan, niscaya Nabi SAW akan mewajibkan umatnya untuk memakai siwak. Maka dari itu, Hukum memakai Siwak adalah Sunnah yang sangat dianjurkan.

Bagaimana ketika bulan Puasa? Yang benar adalah disukainya penggunaan siwak setiap saat, baik bagi yang berpuasa maupun tidak. Ada yang mensyaratkan boleh bagi yang berpuasa untuk menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari dan sebelumnya.

Dalilnya adalah hadits Amir bin Rabi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab sunnah, ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah SAW berkali-kali menggunakan siwak ketika beliau sedang berpuasa".

Ia tidak membedakan apa yang dilihatnya itu, apakah sebelum tergelincirnya matahari atau setelahnya, ia menyebutkannya secara global. Biasanya yang dilihat itu adalah setelah tergelincirnya matahari, karena salat siang hari itu semuanya setelah tergelincirnya matahari. Sementara siwak itu sendiri sangat dianjurkan penggunaannya sebelum salat.

Adapun orang-orang yang memakruhkan penggunaannya bagi yang sedang menjalankan puasa, mereka berdalih dengan hadits, “Jika kalian berpuasa, hendaklah kalian ber-siwak di awal hari dan janganlah kalian ber-siwak di akhir hari”. Tapi hadits tersebut lemah, jadi tidak dapat menjadi hujjah.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini