Dalam kesempatan itu, Nizar menyampaikan pesan kepada jamaah haji khusus kloter pertama.
"Hal pertama yang harus selalu dijaga adalah jaga niat hati bapak/ibu. Ibadah haji adalah ibadah suci. Jadi perbaiki niat lillahi ta'ala. Kedua, jaga kesehatan. Poin ini penting, terlebih saat berada di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina)," paparnya.
"Ketiga, jaga keindonesiaan sebagai bentuk rasa nasionalisme. Perilaku dan tindakan harus sesuai dengan Indonesia yang dikenal sebagai jamaah haji tertib, rapi, santun, dan memiliki toleransi yang tinggi," terang Nizar yang pernah menjabat sebagai kepala Kanwil Kemenag Yogyakarta itu.
Baca juga: Cara Kemenag Antisipasi Jamaah Haji Kehilangan Selera Makan Selama di Tanah Suci
Sementara menurut Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus, Muhammad Arfi Hatim, jadwal keberangkatan haji khusus kloter pertama berangkat pada 19 Juli dan kloter terakhir berangkat pada 7 Agustus 2019 yakni dua hari sebelum wukuf.
"Kalau jadwal pemulangan kloter awal akan dilaksanakan pada 16 Agustus 2019 dan pemulangan kloter akhir dijadwalkan pada 1 September 2019," tutur Arfi.

Lebih lanjut ia juga memerinci data jamaah haji khusus. "Tahun ini terdapat 16.960 jamaah haji yang akan diberangkatkan. Pemberangkatan jamaah haji khusus akan diurus oleh 270 PIHK (Penyelengara Ibadah Haji Khusus)," lanjut Arfi.
Baca juga: Soal Umrah Digital, Kemenag: Traveloka dan Tokopedia Harus Miliki Provider Visa
Terkait masa tunggu keberangkatan haji khusus, ia meminta jamaah bersyukur. "Jamaah haji khusus patut bersyukur karena dapat menuju Tanah Suci dikarenakan tidak hanya haji reguler saja yang memiliki masa tunggu, tetapi haji khusus juga memiliki masa tunggu sekitar tujuh tahun," ungkapnya.
Keberangkatan dan kepulangan haji khusus dilakukan di sembilan bandara. Masing-masing adalah Jakarta, Solo, Surabaya, Makassar, Palembang, Balikpapan, Banjarmasin, Batam, dan Medan.
(Hantoro)