MADINAH - Indonesia mendapat tambahan kuota haji sebesar 10.000 jamaah pada musim haji 2019. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri.
"Tentu saja tambahan kuota sebanyak 10.000 jamaah ini sangat berpengaruh. Karena tempat dan fasilitas yang terbatas di Mina dan Arafah," kata Kepala Satuan Operasi Armuzna PPIH 2019 Jaetul Muchlis di Madinah, Kamis (25/7/2019).
Akibat terlalu padat kawasan Mina, tiap orang hanya dialokasikan ruang seluas 0,8 meter di tenda pada tahun ini. Baca Juga: 10 Ribu Pekerja Siap Melayani Jamaah Haji 2019
Dia menyebut, Mina merupakan salah satu yang paling spesial dalam puncak ibadah haji. Bahkan, dia menyebut Mina sebagai "Primadona".
"Karena kasus-kasus di sana berbobot, selalu fenomenal," kata dia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya telah membentuk Tim Mobile Crisis. Tim ini akan bekerja 24 jam mendeteksi titik rawan bagi jamaah haji Indonesia.
Dia bercerita, tim ini akan terdiri dari sekira 240 personel. Mereka terdiri dari Tim Gerak Cepat (TGC), Tim Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (P3JH), tim perlindungan jamaah (linjam).
"Media Center Haji juga akan terlibat di situ," kata dia.
Baca Juga: Jamaah Harus Simpan Tenaga Jelang Puncak Haji, Ini Tipsnya!
(Arief Setyadi )