MADINAH - Puncak ibadah haji tidak akan lama lagi. Fase di Mina nilai menjadi yang paling krusial dari tahapan puncak haji yang biasa disebut tahap Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina).
Kepala Satuan Operasi Armuzna PPIH 2019 Jaetul Muchlis pun memiliki istilah sendiri untuk menggambarkan Mina, yakni sebagai "Primadona".
"Karena kasus-kasus di sana berbobot, selalu fenomenal," kata dia di Madinah, Kamis (25/7/2019).
Salah satu antisipasi yang dilakukan adalah dengan membentuk Tim Mobile Crisis. Tim khusus ini akan terdiri dari sekira 240 personel.
Baca Juga: Tambahan 10.000 Kuota Jadi Tantangan Tersendiri di Puncak Ibadah Haji
Mereka terdiri dari Tim Gerak Cepat (TGC), Tim Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (P3JH), tim perlindungan jamaah (linjam) dan termasuk Media Center Haji (MCH).
Dia menjelaskan, tim ini akan bekerja 24 jam mendeteksi titik rawan bagi jamaah haji Indonesia. "Mina itu primadona, tinggal bagaimana kita mengatasinya," tutur dia.

Sementara itu, Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari menyebut, fase Mina akan menjadi tahap terberat dalam pelaksanaan puncak ibadah haji.
"Yang paling berat adalah operasional di Mina, karena di Mina itulah ada mobilisasi jemaah dari tenda menuju Jamarat," jelas Jauhari.
Saat di Arafah, kata dia, relatif tidak ada aktivitas yang berat. Jamaah saat di Arafah hanya berdiam di tenda untuk persiapan dan pelaksanaan wukuf pada 9 Zulhijah.
"Pada saat di Mina, ada pergerakan jemaah dari tenda menuju jamarat untuk melaksanakan jumrah aqabah, sementara jarak tenda ke jamarat bervariasi. Ada yang sampe 7 kilometer, ada yang 4 kilometer bolak balik," ujar dia.
Baca Juga: 10 Ribu Pekerja Siap Melayani Jamaah Haji 2019
(Arief Setyadi )