JEDDAH - Empat kelompok terbang (kloter) yang termasuk dalam pemberangkatan gelombang kedua jamaah haji Indonesia, terjadwal akan mendarat di Madinah. Ini berbeda dengan penerbangan jamaah haji gelombang kedua lainnya yang mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah untuk kemudian akan bergerak ke Makkah.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Kedatangan dan Keberangkatan Daerah Kerja Bandara Jeddah-Madinah, Cecep Nursyamsi.
"Otoritas Bandara King Abdul Aziz, tidak memberikan izin mendarat sebagaimana kloter gelombang dua lainnya, akibat keterbatasan slot time penerbangan," jelas Cecep seperti dikutip dari situs Kemenag.go.id, Kamis (25/07).
Baca Juga: Total Uang Hilang Jamaah Haji di Madinah Capai Rp104 Juta dan 6.500 Riyal

Akibat ketetapan ini, kurang lebih sebanyak 1200 jamaah yang tergabung dalam empat kloter tersebut harus menempuh perjalanan darat sekitar enam jam dari Madinah ke Makkah. Oleh karenanya, saat ini Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus melakukan lobi kepada pihak Arab Saudi agar keempat kloter tersebut memperoleh waktu pendaratan di Jeddah.
“Bila mendarat di Madinah, jemaah haji akan langsung diberangkatkan ke Makkah setelah sebelumnya miqat di Bir Ali. Rentang waktu perjalanan antar dua kota ini mencapai enam hingga delapan jam. Sementara bila mendarat di Jeddah, jamaah cukup menghabiskan dua jam maksimal untuk mencapai Kota Makkah,” kata Cecep.
Cecep menjelaskan, empat kloter yang harus mendarat di Madinah berasal dari dua embarkasi. Pertama, dua kloter dari embarkasi Makassar yakni UPG 35 dan UPG 40, masing-masing akan mendarat pada 2 dan 5 Agustus. Kedua, dua kloter asal embarkasi Banjarmasin, kloter BDJ 17 dan BDJ 19 yang akan mendarat pada 3 dan 5 Agustus.
Baca Juga: Ganggu Kenyamanan Jamaah Haji, Arab Saudi Gusur Marketer Sim Card di Bandara
Cecep menuturkan, permintaan perubahan lokasi pendaratan dari Madinah ke Jeddah juga dilakukan demi kemudahan rangkaian layanan dan kenyamanan jamaah haji. Mulai dari penyiapan transportasi dan pemondokan.