nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Mariyah al-Qibthiyah, Budak yang Bikin Istri Rasulullah Cemburu

Brilyana Dwi Indriani, Jurnalis · Selasa 03 September 2019 14:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 03 614 2100102 mengenal-mariyah-al-qibthiyah-budak-yang-bikin-istri-rasulullah-cemburu-FWzdBkQkHO.jpg Istri Rasulullah Mariya (Foto: Jamiatul Ulama)

Di antara para istri Rasulullah tersebutlah nama Mariyah al-Qibthiyah, seorang budak yang diangkat menjadi ummul mukminin. Kisah hidupnya penuh lika-liku, dari menjadi pelayan raja, dijadikan hadiah, pindah agama, hingga menerima kehormatan menjadi istri Rasulullah.

Kecantikan Mariyah al-Qibthiyah dikisahkan sempat membuat para istri Rasulullah cemburu, tak terkecuali Aisyah yang paling muda dan cantik jelita. Sayyidah Aisyah menceritakan, "Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita melebihi kecemburuanku kepada Mariyah, karena Mariyah adalah wanita yang sangat cantik hingga Rasulullah begitu mengaguminya."

Dilansir dari buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, Mariyah Al-Qibthiyah binti Syam'um merupakan budak dari Mesir. Dia memiliki paras cantik dan berambut keriting. Mariyah Al-Qibthiyah terlahir dari seorang ayah berdarah Qibti dan ibu beragama Nasrani dari Romawi. Mariyah Al-Qibthiyah lahir di sebuah desa yang jauh di Mesir, yaitu Hafn.

Pada awal usia remajanya, Raja Qibti al-Muqauqis telah meminangnya bersama saudarinya, Sirin. Mariyah dan saudarinya pun berpindah ke Istana untuk menjadi seorang pelayan raja dan selalu ada di sisi raja.

Raja Qibti Al-Muqauqis sebelumnya tidak mengenal islam tatkala diserukan oleh Rasulullah Muhammad S.A.W. Rasullah mengirim utusan, Hathib bin Abi Balta'ah untuk menyampaikan sepucuk surat yang berisi ajakan untuk masuk islam.

Berikut isi surat itu: Dari Muhammad bin Abdullah untuk al-Muqauqis pembesar Qibti. Semoga keselamatan selalu terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du, sesungguhnya aku menyerumu pada islam. Tunduklah, niscaya engkau selamat dan Allah memberimu pahala dua kali. Jika engkau menolak, engkau menanggung dosa seluruh penduduk Qibthi.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali-Imran:64)

Raja Al-Muqauqis membaca surat Rasulullah dengan penuh hormat lalu memanggil sekretarisnya untuk membalas surat Rasulullah :

"Amma Ba'du aku telah membaca suratmu dan aku telah mengerti apa yang engkau katakan serta engkau serukan. Aku tahu bahwa masih ada seorang Nabi dan aku mengira bahwa Nabi itu akan muncul di Syam. Aku telah memuliakan utusanmu dan kukirimkan untukmu dua budak yang begitu dihormati oleh rakyat Qibthi. Aku kirimkan bersama mereka sejumlah pakaian dan kendaraan tunggangan. Sekian."

Setelah utusan Rasulullah kembali ke Madinah al-Munawarah sambil membawa surat dari Raja al-Muqauqis dengan dua budak wanitanya Mariyah dan Sirin serta dua budak laki-laki ditambah dengan 1000 mitsqal emas, 20 helai pakaian indah buatan Mesir, 1 ekor bighal (hewan yang lahir perkawinan antara kuda dan keledai) yang gemuk dan madu Banha.

Rasulullah menyambut surat dan menerima hadiah, lalu Rasulullah menjadikan Mariyah sebagai budak beliau, dan memberikan Sirin kepada Hassan bin Tsabit, penyair Rasulullah.

Kecemburuan segera membakar hati para istri Rasulullah ketika berita kedatangan Mariyah terdengar dalam rumah tangga Nabi, terutama Sayyidah Aisyah. Musababnya, Rasulullah sudah memperistri Mariyah dan sering menghabiskan waktu bersamanya. Mariyah telah memeluk Islam, dia juga bersedia untuk berhijab sebagaimana ummahatul mukminim dan para wanita secara umum.

Rasulullah S.A.W menyadari apa yang terjadi antara Aisyah dan para istrinya yang cemburu kepada Mariyah, sehingga Mariyah dipindahkan ke al-Aliyah, sejauh 3 mill dari Madinah, di sanalah Mariyah menetap.

Suatu malam Mariyah menceritakan kepada Rasulullah bahwa ia telah mengandung. Beliau pun menerima kabar itu dengan memuji dan bersyukur kepada Allah. Berita tersebut langsung tersebar di Madinah dan semua menanti kabar gembira tersebut, namun para istri Nabi menyambut dengan sedih. Ketika perut mereka bersikap "kikir", perut Mariyah itu bersikap "pemurah".

Saat kabar bahagia datang, tersebar pula bisikan yang meragukan kesucian Mariyah. Para penebar fitnah tersebut berprasangka bahwa ada laki-laki Qibti yang datang bersama Mariyah dari Mesir di antara hadiah Raja al-Muqauqis. Laki-laki itu selalu datang kepada Mariyah untuk membawakan air dan kayu bakar.

Pembicaraan terus berkembang hingga menjadi kegaduhan. Menjadi kisah dusta baru yang disambut senang oleh para munafik. Mereka mengatakan,"keledai jantan telah menggauli keledai betina."

Alangkah buruknya para penebar keburukan itu. Mereka telah menikmati berita palsu, sebelumnya telah menuduh Sayyidah Aisyah dengan Shafwan, selanjutnya mereka menuduh Mariyah ibn Syam'un dengan seorang laki-laki impoten. Perlahan tapi pasti fitnah tersebut mereda karena tak terbukti. 

Rasulullah bergegas menuju kediaman Mariyah. Beliau temukan Mariyah sedang menahan sakit karena hendak melahirkan. Dia terbaring ditemani saudarinya, Sirin. Mariyah berharap Rasulullah akan menemaninya hingga melahirkan, namun Rasulullah berpamitan hendak pulang dan kembali tinggal di Madinah senantiasa mendoakan kebaikan dan keselamatan baginya.

Rasulullah meminta Salma untuk pergi ke Aliyah, tempat Mariyah menetap, untuk tinggal dan mengasuh putranya. Salma mengerti bagaimana Rasulullah begitu mencintai cucu-cucunya, Hasan dan Husain serta semua anak-anaknya.

Abu Rafi menemui Rasullulah untuk mengabarkan kabar gembira bahwa Mariyah telah melahirkan seorang anak laki-laki. lalu Rasulullah menemui Mariyah dengan senyum di wajahnya. Setelah memuji Allah atas keselamatan Mariyah, beliau mendekati sang bayi dan menggendongnya dengan lembut.

Mendengar kabar gembira para Ummahatul Mukminin justru merasa dongkol. Melihat Mariyah karena didorong oleh rasa cemburu. Betapa tidak, Mariyah melahirkan bayi lelaki.

Masih ada sedikit keraguan dalam hati Rasulullah hingga datanglah Jibril dan berkata, "Assalamualaika ya Aba Ibrahim". Mendengar kalimat Jibril ini, hati Rasulullah menjadi tenang dan senang atas rahmat Allah dan penyucian nama baik Mariyah.

Tujuh hari setelah kelahiran putranya, Ibrahim, Rasulullah melaksanakan akikah dengan menyembelih kambing, mencukur rambut Ibrahim, dan bersedekah perak pada kaum miskin senilai berat timbangan rambut Ibrahim. Mereka mengambil rambut Ibrahim lalu menguburnya.

Ketika memasuki usia dua tahun, Ibrahim menderita sakit keras. Hari-hari ia lewati dalam keadaan sangat buruk sehingga Mariyah mengirim utusan kepada Rasullah agar beliau menjenguk, Rasulullah pun segera datang untuk melihat putranya.

Anas menceritakan, aku melihat Ibrahim yang sedang menjalani sakaratul maut dalam dekapan Rasulullah. Ketika berita kematian Ibrahim tersebar luas, terjadilah gerhana matahari. Orang-orang berkata : "matahari turut gerhana karena kematian Ibrahim".

Demikianlah Mariyah telah berpisah dengan putra semata wayangnya, Ibrahim. Di tengah berbagai musibah dan perjalanan yang ia hadapi, mulai dari air mata Rasulullah yang lembut, gerhana matahari desas-desus masyarakat, serta petunjuk dan dan ajaran Nabi kepada mereka saat melihat salah satu dari sekian ayat-ayat Allah.

Mariah selalu sabar dan ridha kepada qadha serta qadar Allah sehingga akhirnya ia mengalami musibah terbesar, yaitu wafatnya Rasulullah SAW. Musibah ini membuatnya lupa akan duka kepergian Ibrahim putranya. Dia akan tetap memegang janji dan ibadah yang selalu ia lakukan semasa hidup Rasulullah SAW. 

Setelah Rasulullah wafat, Mariyah masih hidup kurang lebih lima tahun dalam kesendirian dan menutup dirinya. Dia tidak pernah bertemu siapapun kecuali saudarinya, Sirin. Tidak juga keluar rumah kecuali berziarah ke makam Rasulullah atau makam Ibrahim di Baqi.

Hal itu ia jalani sampai ia menghadap Sang Pencipta pada tahun 16 Hijriah pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Jenazah Mariyah dimakamkan di Baqi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini