Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini 2 Sifat yang Bisa Menjauhkan Diri dari Penyakit

Yunita , Jurnalis-Senin, 30 September 2019 |12:06 WIB
Ini 2 Sifat yang Bisa Menjauhkan Diri dari Penyakit
Sifat yang bisa menjauhkan diri dari penyakit (Foto: Adventist Review)
A
A
A

ADA dua sikap yang bisa menjauhkan diri dari kegelisahan, emosi bahkan penyakit. Yakni memaafkan dan saling toleransi.

Sikap penolak penyakit ini tersirat dalam sunnah Nabi, banyak hadis yang menganjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain dan menyingkirkan kedengkian dalam hati. Ibnu an-Najjar meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

"Sambung-lah silahturahmi dengan orang yang memutusnya dan berbuat baiklah kepada orang yang telah bersikap buruk kepadamu. Katakan yang benar walaupun terhadap dirimu sendiri."

Menurut hadis lain, "Tak ada takaran yang lebih besar pahalanya di sisi Allah dari takaran amarah yang ditahan seseorang demi mengharap ridha Allah." (HR. Ibnu Majah).

Ilustrasi memaafkan

Maksud menahan amarah dan memaafkan dalam hadis di atas adalah memberi maaf saat mampu. Para perawi meriwayatkan dari Nabi dengan isnad yang baik, bahwa beliau bersabda,

"Siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu mengeluarkannya, maka Allah akan memanggilnya sebagai pemuka seluruh makhluk, memberinya pilihan berupa bidadari-bidadari cantik. Ia boleh menikahi siapa aja di antara mereka yang diinginkannya."

Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang menyeru manusia agar memaafkan kesalahan orang-orang yang berbuat salah. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

"Dan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik." (Al-Hijr: 85).

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dalam ayat lain, "(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 134).

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Selanjutnya, "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Al-Furqan:63). Klik halaman selanjutnya untuk sikap yang bisa menghalau penyakit.

Saat seseorang marah, maka tubuhnya akan bergejolak dan tekanan darahnya naik sehingga ia mudah terserang penyakit, baik fisik maupun psikis. Sejumlah riset ilmiah menyimpulkan bahwa amarah yang berkelanjutan dapat mengurangi usia manusia. Oleh sebab itu Nabi menganjurkan kaum muslim agar menghindari sifat pemarah.

Seseorang layak marah jika kesucian atau hukum Allah ada yang dilanggar. Rasulullah bersabda kepada orang yang marah, "Jika salah seorang dari kalian marah, hendaknya ia diam."

Beliau juga bersabda,

"Hendaknya seorang dari kalian tidak memutuskan hukum di antara dua orang yang bertikai dalam keadaan marah." (HR. Muslim).

Alquran menggambarkan amarah dengan kekuatan setan yang mengalahkan manusia dan mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Saat marah, Nabi musa A.S melemparkan Lauh (kitab Taurat) dan menarik kepala adiknya. Namun, saat kemarahannya reda, Nabi Musa kembali mengambil Lauh tersebut.

 Saling memaafkan

Allah Berfirman,

"Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu di ambilnya kembali lauh-lauh (Taurat) itu dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya." (Al-A'raf: 154).

Seakan-akan amarah adalah bisikan setan yang mendesak Musa untuk melemparkan Lauh itu. Untuk menghindari amarah dibutuhkan kontrol jiwa disertai dengan iman yang kuat kepada Allah. Rasulullah memuji perilaku ini dalam hadisnya,

"Bukanlah orang yang kuat itu dengan kekuatan fisiknya, tetapi yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya saat marah."

Jangan biasakan menjauhi amarah dengan mengkonsumsi obat penenang, karena obat tersebut berdampak buruk bagi kesehatan. Jika seseorang sudah kecanduan obat penenang, maka ia akan sulit untuk menghindarinya.

Di samping itu, kedokteran jiwa memiliki dua cara dalam mengobati penderita marah. Pertama, melalui pengurangan sensitivitas emosi, yaitu dengan melatih pasien untuk melakukan relaksasi sambil menghadapi situasi yang sulit sehingga ia terlatih menghadapinya tanpa marah atau emosi.

Ternyata terdapat cara-cara islami meredakan marah secara pengobatan teoretis :

1. Mengingat dalil-dalil yang dikandung Al-Quran dan hadis tentang pujian terhadap kesabaran dan orang-orang yang sabar, serta mengingat besarnya pahala kesabaran yang akan didapat di hari akhir.

2. Orang yang dikuasai amarah hendaknya menyadari bahwa kuasa Allah lebih kuat daripada kekuatannya atas orang yang ia marahi. Dengan demikian, Allah akan meringankan amarah dan siksa-Nya.

3. Sseorang harus mengingat kondisi-kondisi orang yang marah. Perilaku dan perbuatan orang marah sangat tidak terpuji. Dengan demikian, yang bersangkutan akan berpikir dengan matang sebelum marah-marah.

Rasulullah bersabda,

"Tak ada takaran yang lebih besar pahalanya di sisi Allah dari takaran amarah yang ditahan seorang hamba demi mencari rida Allah." (HR. Ibnu Majah). Demikian sebagaimana dikutip dari "Buku Pintar Sains Dalam Al-Qur'an Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah", karya Dr. Nadiah Thayyarah.

(Dinno Baskoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement