Seorang kiai dituntut menjadi panutan sekaligus menjaga marwah atau harga dirinya di tengah masyarakat.
Salah satu pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) KH. Wahab Chasbullah rupanya salah satu dari sedikit kiai yang memilih bersikap merakyat untuk menjadi seorang panutan.
Kesan itu terlihat dari sebuah cerita yang beredar tentang Mbah Wahab semasa hidupnya. Bersama kiai sepuh yang juga pendiri NU, KH. Bisri Syansuri, Mbah Wahab bersilaturahim ke beberapa kiai di Jawa Timur.
Dalam perjalanan pulang dari Nganjuk menuju Jombang, Mbah Wahab menyuruh sopirnya berhenti di sebuah warung pinggir jalan. Ia mengajak Mbah Bisri turun untuk makan. Mbah Wahab paham dengan sikap Mbah Bisri yang menolak turun meski lapar.
Akhirnya Mbah Wahab bersama sopir dan seorang santrinya masuk ke dalam warung. Saking laparnya, Mbah Bisri memberi kode khusus ke santrinya. "Bungkusno siji yo (Bungkuskan satu ya)," ujar Mbah Bisri pelan.