Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tauladan dari Rasulullah, Banyak Bekerja Sedikit Bicara

Abu Sahma Pane , Jurnalis-Selasa, 05 Mei 2020 |09:36 WIB
Tauladan dari Rasulullah, Banyak Bekerja Sedikit Bicara
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
A
A
A

NABI Muhammad merupakan junjungan umat Muslim untuk menggapai keselamatan dunia dan akhirat. Apapun yang beliau lakukan menjadi contoh bagi umat.

Misalnya dalam bekerja, Rasulullah tidak banyak bicara. Bahkan bermalas-malasan semasa kecil bukanlah sifatnya.

Semasa belia ia hidup dari ongkos menjadi penggembala kambing dan upah sebagai pegawai Siti Khadijah. Hidupnya juga ia baktikan untuk melayani keluarga, tetangga, dan umat.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut berlanjut sampai Nabi dewasa. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Siti Aisyah, Rasulullah SAW itu sering sekali mencuci pakaiannya sendiri, menjahit sandalnya sendiri, melakukan pekerjaan rumah sendiri. Ketika ia membangun Masjid dan rumah, Rasul memindahkan batu dengan tangannya sendiri.

Baginda Nabi Muhammad SAW sangat tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Apa yang bisa dikerjakan hari ini sekecil apapun, ia kerjakan hari ini juga.

Baca Juga: Cara Menjadi Hamba Pilihan Allah Sekelas Malaikat

Menurut Baginda Nabi Muhammad SAW, ummat ini sangat dianjurkan menyegerakan beramal saleh dan bekerja dengan baik. Sebab jika menunda-nundanya maka akan sangat merugi dan penyesalanlah yang didapat.

Nabi Muhammad iselalu bertutur kata fasih dan lemah lembut. Bahkan bicaranya di ulang tiga kali supaya yang mendengarnya paham.

Rasulullah tidak banyak bicara, karena baginya banyak bicara itu bisa menyebabkan kelupaan dan kekeliruan. Beliau lebih banyak menganjurkan banyak berpikir, bukan berangan-angan. Berpikir dan berangan-angan itu berbeda. Berpikir itu memakai akal yang sehat, sedangkan berangan-angan hanya banyak berandai-andai dengan kalimat jikalau, andaikata, seumpama dan lain sebagainya, sama sekali tidak produktif.

Baca Juga: Aura Cantik Prilly Latuconsina Kian Terpancar saat Berhijab

Bagi Baginda Nabi dari pada banyak bicara, banyak omong, lebih baik diam. Karena diam itu jalan menuju selamat. Bahkan menurut Baginda Nabi, diam itu sebagian dari tanda-tanda Iman. Diam yang dimaksud di sini, diam yang pada tempatnya.

Hadist riwayat Imam Hakim dan Baihaqi dari Sahabat Ibnu Abbas RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Pergunakan dengan baik lima perkara sebelum datang lima perkara, hidupmu sebelum datang matimu, masa sehat-mu sebelum datang masa sakitmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa pikunmu, masa kayamu sebelum datang masa fakir atau miskinmu”.

Baca Juga: Gaya Hijab Santun Menantu SBY Aliya Rajasa di Tanah Suci

Hadis riwayat Imam Ahmad, Nasa-i dan Ibnu Majah dari Abu Huroiroh RA dan Abu Syuraih al Khaza’i RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik-baik, atau diam!”. Menurut Baginda Nabi, diam itu sebaik-baiknya akhlak. Andai bicara itu seperti perak, maka diam itu seperti emas, begitu menurut sebagian kata-kata orang bijak.

Rasulullah SAW itu lebih banyak bekerja dari pada berbicara, karena orang yang banyak bicara itu (biasanya) sedikit dalam bekerjanya. Rasulullah lebih banyak bermusyawarah dengan para sahabat setianya serta menerima pendapat mereka mulai dari urusan-urusan dunia sampai urusan-urusan strategi politik dan perang.

Seperti ketika Salman al Farisi berpendapat bagaimana membuat parit-parit sebagai jebakan dalam perang Khandaq. Baginda menerima usul sahabat asal Persia itu yang akhirnya dalam perang Khandaq pihak umat Islam menang telak.

Demikian dikutip dari laman Tebuireng pada Selasa (5/5/2020) sebagaimana disampaikan Pengasuh Pesantren Roudlotut Tholibin Kombangan Bangkalan Madura, KH. Fawaid Abdullah.

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement