Dua Orang Kepercayaan Sayyidah Khadijah Sebelum Jadi Istri Nabi

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 05 Mei 2020 09:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 330 2209286 dua-orang-kepercayaan-sayyidah-khadijah-sebelum-jadi-istri-nabi-3kXCxu0tWe.jpg Ilustrasi. Foto: Pond5

SAYYIDAH Khadijah merupakan istri pertama Nabi Muhammad SAW. Keduanya menikah saat Nabi berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Bagi Sayyidah Khadijah itu adalah pernikahannya yang ketiga kali karena dua suaminya terdahulu meninggal dunia. Sebelum menikah dengan Rasulullah, saat berusia belasan tahun Khadijah adalah istri Atiq bin ‘Abid.

Namun sang suami Atiq wafat setelah Khadijah melahirkan putra pertamanya, Abdullah. Hindun bin Zurarah kemudian mengkhitbahnya. Dengan Hindun, Khadijah memiliki dua anak: al-Harits dan Zainab.

Namun bukan kedua suaminya itu yang memberi peran penting dalam hidup Khadijah sebelum jadi istri Nabi. Sepanjang catatan sejarah, hanya ada dua orang yang benar-benar berpengaruh, yaitu keponakannya yang bernama Hakim bin Hizam dan sepupunya Waraqah bin Naufal.

Baca Juga: Aura Cantik Prilly Latuconsina Kian Terpancar saat Berhijab

Hakim adalah pemuda yang pandai, berwasan luas, serta perangainya halus. Sejak usia 15 tahun, sifat dermawannya sudah kentara. Hanya segelintir penderma dalam kaumnya yang sedermawan dia. Pada usia itu dia sudah masuk dalam perkumpulan para dermawan (dar an-nadwah). Padahal sebelumnya perkumpulan itu hanya menerima anggota di atas usia 40 tahun.

Dengan diterimanya Hakim sebagai anggota dar an-nadwah, itu menunjukkan betapa unggul pemikirannya. Abu Sufyan, seorang yang mendapat tempat tertinggi di antara kaum Quraisy menaruh hormat kepadanya. Ia sangat ingin mendapat prestasi yang sama dengan Hakim.

Dari sosok Hakim inilah Khadijah mendapatkan pengetahuan yang luas. Tak terkecuali ilmu dagang, karena Hakim sendiri memanfaatkan kecerdasannya itu untuk berdagang.

Baca Juga: Cara Menjadi Hamba Pilihan Allah Sekelas Malaikat

Hakim memiliki banyak kafilah dagang, dan kafilah itu sudah mencapai negara Syam, bahkan sampai Persia. Meski keuntungannya berlipat, ia tidaklah memakai cara culas untuk mendapatkan keuntungan itu. Justru ia bersedekah kepada fakir miskin di Kota Makkah, serta kepada tamu-tamunya dan orang-orang yang ingin mendapat belas kasihnya.

Hal ini yang membuat Khadijah kagum dan semakin giat mempelajari ilmu keponakannya itu.

Jika ia belajar hal-hal duniawi kepada Hakim, maka ia belajar hal-hal ukhrawi kepada sang sepupu, Waraqah bin Naufal. Usia Waraqah yang tua diimbangi dengan ilmu dan ruhaniyahnya yang matang.

Waraqah adalah sosok yang anti materialistis, zuhud. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk tafakkur atas ciptaan Tuhan. Beribadah kepada-Nya mempelajari dua kitab suci: Taurat dan Injil.

Baca Juga: Gaya Hijab Santun Menantu SBY Aliya Rajasa di Tanah Suci

Ia tidak terpengaruh oleh peribadatan yang dilakukan kaumnya. Ia sama sekali tidak mendekati berhala, patung pemujaan, tumbal dan sesembahan. Ia hanya menyembah Sang Maha Tunggal. Hatinya yang bersih karena hanya dipenuhi kerinduan akan surga dan kekhawatiran akan neraka, membuatnya dicintai banyak orang dari kaumnya.

Jika ia lewat di depan orango-rang, mereka menghormatinya. Andai saja bukan karena keyakinan mereka berbeda, orang-orang itu ingin bersama Waraqah, berhadap-hadapan dengannya dalam waktu yang lama.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dari seluruh pengetahuan yang ia dapatkan, satu hal yang paling ia idam-idamkan, ia telah mengetahui ciri-ciri Nabi yang akan lahir kemudian sebagai nabi terakhir. Ia baca di Kitab Taurat, Injil, ia dapat dari diskusi dengan para agamawan. Nabi terakhir itu berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim as.

Ia sangat merindukan detik-detik itu. Detik-detik di mana ia akan bertemu dengan sang Nabi sebelum nafasnya berhembus.

Hal-hal itu menjadi titik tolak Sayyidah Khadijah dalam memutuskan seperti apa hidup yang akan dijalaninya. Ia mendapat ilmu duniawi yang sempurna dari Hakim dan pengetahuan ukhrawi yang tinggi lagi arif dari Waraqah.

Demikian dilansir dari laman Lirboyo pada Selasa (5/5/2020) sebagaimana mengutip dari Dr. Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah az-Zahra’, al-Manar li an-Nasyr wa at-Tanwir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya