INDONESIA dan negara lain memutuskan membatalkan mengirim jamaah calon haji tahun ini. Langkah tersebut guna mencegah penularan corona virus disease (covid-19) ketika para jamaah melangsungkan prosesi ibadah haji di Tanah Suci.
Dalam catatan sejarah, wabah SARS dan MERS juga pernah memengaruhi prosesi ibadah haji. Tapi mengapa ketika penyakit tersebut melanda, ibadah haji tetap dijalankan?
Mengutip dari BBC News Indonesia, Rabu (3/6/2020), Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Baluki Ahmad yang telah menjalani bisnis travel umrah dan haji sejak 1977, wabah SARS yang menimpa dunia pada 2002–2004 tidak jatuh pada musim haji.
Begitu pula dengan MERS, lanjut dia, sehingga tidak ada protokol kesehatan khusus bagi jamaah haji asal Indonesia ketika itu.
"SARS itu tidak jatuh pada musim haji. Saat MERS juga tidak menyentuh di musim peak haji. Tidak ada pembatasan-pembatasan semacam itu, (atau) kondisi seperti wabah sekarang, pada musim haji tidak dirasakan itu," jelas Baluki.
"Tidak ada pembatalan haji saat (wabah) MERS, dan (penyakitnya) sudah tertanggulangi waktu keberangkatan haji, tidak seheboh sekarang, sekarang kan sudah jelas, jangan-jangan kita negara yang akan dilarang bisa masuk ke negara orang karena kondisi (pandemi di negeri) kita," paparnya.
Hal sama juga diungkapkan Direktur Utama PT Patuna Mekar Jaya Syam Refiadi yang sudah mengurus travel umrah dan haji sejak 1988.
"Imbauan (saat wabah MERS) cuma satu, karena (sumber penyakit) diduga dari unta, maka jamaah haji dijauhkan dari unta," terangnya.
"Haji saat itu sama saja, karena bukan dari virus yang diduga disebarkan oleh manusia, sehingga Pemerintah Arab Saudi sendiri, meski banyak unta (di sana), merasa tidak ada isu itu, jadi haji tetap jalan," jelas Syam.
"Haji waktu (wabah) SARS juga sama saja. Waktu itu media sosial tidak banyak, tidak ada yang menyebarkan berita-berita yang menakutkan," tegasnya.
"Yang (direkomendasikan saat itu) hanya suntikan flu dan meningitis. (Ketika) SARS tidak ada imbauan (untuk jamaah haji) pakai masker. Anjuran (kesehatan seperti) covid-19 tidak ada sama sekali (dulu)," tambahnya.
Bagaimana Haji saat MERS Dulu?
Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Regional Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ketika wabah MERS merebak pada awal 2010, memang ada kekhawatiran kontingen jamaah haji Indonesia akan tertular, namun ibadah sendiri tetap berjalan.
"Pada waktu MERS 2015 lalu saya kira memang waktu itu ada kekhawatiran kemungkinan terjadi penularan MERS (terhadap jamaah haji Indonesia) di Arab Saudi, tapi waktu itu proses haji tetap berjalan dan jamaah tetap berangkat," kata Prof Tjandra yang lima tahun lalu menjabat sebagai kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.
"Tapi saya tidak ingat pasti program waktu itu oleh pemerintah, tapi saya percaya berbagai penyuluhan telah dilakukan, baik kepada jamaah haji atau petugas kesehatan haji," ungkapnya.
Pada 2012 dan 2013, Pemerintah Arab Saudi menganjurkan jamaah yang berstatus lanjut usia dan memiliki penyakit untuk tidak berhaji karena rentan tertular MERS.
Peserta haji saat itu juga dianjurkan untuk tidak mengunjungi peternakan unta dan meminum susu unta, karena hewan khas Timur Tengah tersebut ditengarai sebagai sumber penularan penyakit.
"MERS saat itu berhubungan berat dengan unta dan biasanya beberapa kelompok (haji) itu memang mengunjungi peternakan unta untuk jalan-jalan. Nah di tahun MERS itu dianjurkan untuk tidak mengunjungi peternakan unta lagi karena waktu itu bisa ada kemungkinan tertular dari unta," tambah Prof Tjandra yang sekarang berdomisili di New Delhi, India.
Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia pada 2015, Prof Tjandra mengatakan bahwa calon jamaah saat itu diberi masker ekstra agar tidak tertular MERS.
"Teorinya, harus meminimalisasi kontak dengan kerumunan orang. Tapi ini kan tidak mungkin dilakukan, maka saat di kerumunan, masker diberikan untuk melindungi diri," kata Prog Tjandra ketika itu.
Kemudian ia juga menganjurkan jamaah mencuci tangan dengan sabun untuk mengurangi risiko penularan berbagai penyakit, serta bagi jamaah yang sudah mengalami penyakit jantung kronis, diabetes, gagal ginjal, atau paru kronis untuk melakukan kontrol kesehatan secara rutin.
"Saya kira sudah disebutkan waktu itu tentang jamaah agar berhubungan segera dengan petugas kalau ada keluhan-keluhan yang ada hubungan dengan MERS, hanya memang tidak mudah, karena keluhan MERS ini kan relatif umum, seperti batuk, demam, yang mungkin bisa sering terjadi saat haji," kata Prof Tjandra saat dihubungi pada Jumat 29 Mei 2020.
"Saya tidak ingat apakah ada jamaah yang tertular, tapi sepanjang kita tahu, kita bisa menanggulangi MERS cukup baik saat itu, sehingga masalahnya tidak terlalu besar," tegasnya.
Kementerian Kesehatan sendiri menyatakan tidak ada jamaah asal Indonesia yang tertular meningitis pada musim haji 2015.
(Hantoro)